Senin, 18 Maret 2019

REUNI SMA N KENDAL DI MAS RISTANTO




REUNI SMA N KENDAL DI MAS RISTANTO
Jika reuni di selenggarakan di Kandal, Aku sangat semangat untuk menghadirinya. Selain acara reuni itu sendiri, kedatangan Ku di Kendal juga untuk ziarah ke makam kedua orangtua Ku, sekaligus bersilahturomi dengan saudara saudara Ku ; Kakak ku dan Adik Ku. Malahan para keponakan yang berada di Kendal, Semarang dan Pati akan Kendal juga, hanya ingin bertemu dengan Ku.
Reuni di Mas Ristanto merupakan reuni yang ke lima, entah reuni yang ke berapa menurut catatan pengurus. Reuni diselenggarakan pada hari Minggu, 18 Februari 2018 di Desa Podosari,  Kecamatan Cepiring - Kendal.
Ingatan Ku tentang Ristanto tidak terlalu banyak, mengingat semasa SMA, Aku dan Ristanto berbeda jurusan. Ristanto memilih jurusan Sosial sedangkan Aku memilih jurusan IPA. Yang Aku ingat, Ristanto orangnya pendiam, kalau ke sekolah, mengendarai sepeda jengki berwarna merah mudah. Aku juga pernah ke rumahnya bersama Yoyok (almarhum) dan teman teman lainnya (aku lupa siapa saja). Kalau tidak salah ayah Ristanto adalah Kepala Desa Podosari atau paling tidak merupakan perangkat desa. Di halaman rumahnya cukup banyak tanaman mangga. Kebetulan saat itu pohonnya sedang berbuah, sehingga aku dan teman teman bebas mengambilnya. Juga ingatku tentang Ristanto adalah saat bersepeda ria ke Semarang bersama Yoyok (almarhum) dan teman teman yanga lain (aku lupa). Kala itu ada keramaian di Semarang. Menginap di saudara Ristanto di daerah Bulu Semarang. Pagi nya disediakan super mie, rasanya sangat nikmat sekali.
Dua atau tiga minggu sebelum acara reuni pengurus sudah mulai sibuk mempersiapkannya. Uniknya Mas Ristanto sulit di hubungi. HP nya jarang disentuh. Kalau di SMS menurut Mbak Nunuk paling cepat baru di balas 2 minggu kemudian. Mas Ristanto tidak menggunakan Smart Phone, mungkin karena usia atau sudah gaptek. Mbak Nina sebagai sekretaris pengurus sepertinya kesel, coba baca apa yang dikatakannya  dalam WA nya: “Aq jd bingung Ristanto Arep di Jak rembugan nggantung .durung dik Nuk? InsyaAllah Minggu tgl 11 “ kata Mbak Nina membalas WA nya Mbak Nunuk. (11 Februari Mbak Nina akan ketemu Mas Ristanto).
Lain lagi Eyang Retno, bendahara Pengurus Alumni,  sejak 2 minggu sebelum reuni sudah woro woro : “  HADIRILAH HADIRILAH  acara pul kumlul tgl 18 Feb 2018 dirumah teman kita Basuki, Cepiring Kendal, untuk teman2  yg dr Jakarta, Bogor, Makasar, Riau , Kebumen, Jogja, Rembang, Pati, Semarang, Brebes, Pekalongan, Pemalang dan tak terkecuali teman2 yg dr Kendal datang ramaikan tgl 18 ya ..... [10:00 PM, 2/8/2018] Sma Retno Muninggar). Biasanya woro woronya  juga mengingatkan teman teman tentang iuran. “ Bagi teman teman yang tidak bisa hadir jangan lupa iurannya, yang tidak hadir kena denda. Uangnya di tranfer ke rekening XXXXXXXXXXXX. Eyang Retno itu bendahara yang paling semangat dalam urusan uang dan reuni. Saking semangatnya reuni yang mestinya di ketik Ristanto di ketik Basuki.
Kalau Mbak Nunuk, Ketua Alumni kita, beliau paling hebat dalam memonitor reuni. Dari Om Syamsul beliau sudah tahu bahwa Mas Ristanto sudah siap dalam menyambut teman teman. “ Yen info seko om Syamsul tuan rumah wis siap. ([10:16 PM, 2/8/2018] Sma Nursilowati).
Kala itu, Aku sudah beli tiket kereta api Jakarta Semarang pergi pulang. Kalau reuni gagal siapa yang bertanggungjawab. Apakah uang tiket bisa kembali?
 “Gak gagal om , acara reunian pasti dan siap dilaksanakan.” Kata Eyang Retno
“Reuni ora bakal gagal ya....? Yen Ristanto durung rampung sing ngecet image (omahe?) pindah nggone Basuki opo nggonku?” Kata Mbak Nina. (Kalau WA kadang kadang Aku agak lama mencerna apa yang disampaikan, sering di singkat, bahasanya sepotong potong).
Sengaja Aku beli tiket kereta api Jakarta - Semarang pergi pulang, karena ingin menikmati perjalanan dengan santai. Pengalaman naik pesawat waktu reuni di Lik Ut, sungguh tidak mengenakan. Kala itu pulang dari Semarang pakai Lion, di tundah sampai 4 jam, dari Semarang jam 12. Malam. Mulyono malahan nginap di Bandara Ahmad Yani.
Untuk beli tiket, Aku serahkan kepada anak Ku. Sebenarnya untuk beli tiket kereta api dapat dilakukan secara online. Namun dalam pembelian secara online tidak semudah yang dibayangkan untuk ukuran orang tua seperti Ku. Satu minggu sebelum acara di mulai, Aku sudah memperoleh tiket KA.  Berangkat naik Agro Bromo Anggrek  dan pulang naik KA Semberani. Stasiun keberangkatan dari Jakarta di Gambir dan stasiun kedatangan di Semarang di Tawang. Demikian pula sebaliknya.
Teman teman alumni memang baik baik. Ketika aku unggah bahwa aku sampai Semarang Jam 15.00 di Stasiun Tawang ada yang menawarkan diri untuk menjeputnya. Juga ada yang memberitahu bahwa kalau bisa turun di Weleri saja, lebih dekat dengan Kendal. Namun ketika aku chek di tiket, ternyata KA tidak berhenti di Weleri, karena KA Agro Bromo Anggrek termasuk KA bisnis, hanya berhenti di Cirebon, Pekalongan dan Semarang dan langsung ke Surabaya.
Oh..., ya..., seperti biasa kalau menghadiri reuni, Aku selalu bawa oleh-oleh khas Bogor. Kali ini Aku akan bawa oleh oleh berupa bolu tales Bogor dan bumbu asinan Bogor. Aku sudah SMS ke Mas Ristanto untuk mempersiapkan buah-buahan nya : mangga, nanas, bengkuang, dondong, dll.
Kereta Agro Bromo Anggrek  berangkat Jam 10.00 dari Stasiun Gambir. Sabtu 17 Februari 2018 , setelah sholat Subuh Aku di antar istri Ku, menuju Stasiun Kereta Bogor. Jarak rumah dengan stasiun tidak terlalu jauh. Pada pagi hari hanya di tempuh dalam waktu kurang dari 10 menit. Sengaja Aku berangkat pagi, karena Aku tidak mau berdesak desakan dalam kereta dan harus dapat tempat duduk. Lagi pula KRL Bogor tidak diperbolehkan  berhenti di Stasiun Gambir. Jadi Aku harus  turun di stasiun sebelum Gambir (Stasiun Gondangdia) atau setelah stasiun Gambir (Stasiun Juanda). Enaknya naik KRL waktunya dapat diprediksi hanya sekitar 1 jam saja. Beda kalau naik mobil, waktu tidak bisa diperkirakan karena masalah kemacetan. Aku memilih turun di Juanda, dari dari sini naik ojek ke Stasiun Gambir. Jaraknya juga tidak terlalu jauh, naik ojek hanya 15 ribu. Sampai di Stasiun Gambir masih pagi, baru jam 7 pagi, jadi harus menunggu selama 3 jam. Ya.., nggak apa-apa. Lebih baik menunggu daripada terburu-buru.
Ketika akan masuk ke stasiun Aku tunjukkan tiketnya, namun oleh petugas Aku di haruskan ngeprint dulu untuk dapat “boarding pass” nya. Untung petugasnya baik, Aku dibantu ngeprint tiket. Dari “boarding pass” ini baru diketahui kereta nomor berapa dan juga nomor tempat duduknya. Fasiltas Stasiun Gambir lumayan lengkap, kafe, alfamart, restoran dan ruang tunggu nya juga lumayan nyaman.
Jam 09.45, KA  Agro Bromo Anggrek memasuki Stasiun. Penumpang secara teratur naik KA. Tepat jam 10.00 KA berangkat. Melihat pemandangan hamparan sawah dan perbukitan serta kesunyian di sepanjang jalan rasanya damai betul. Untuk makan siang ada gerbong khusus restoran. Lumayan enak makanan yang disajikan. Perjalanan santai dan cukup menyenangkan. Jam 15.10, KA sudah sampai di Stasiun Tawang Semarang.
Di Stasiun sudah menunggu Adik Ku. Perjalanan ke Kendal  tidak terlalu lancar, karena kepadatan kendaraan. Di jalan Pandaran, Aku berhenti sebentar untuk membeli bunga, karena esoknya Aku mau nyekar ke makam kedua orang tua Ku.
Malamnya setelah bakda Magrib, Yuliyanto telah menjemput Ku untuk di bawa ke rumahnya Mbak Nur (Nurwati). “ Win di tunggu teman teman SMP N I Kendal, ada “reuni SMP N 1 Kendal”, mumpung pada kumpul.  Di tempat mbak Nur sudah menunggu teman teman alumni SMPN 1 Kendal. Tidak banyak hanya beberapa orang : Tuti, Haryuti, Eni, Moshsoum, Bambang Mul, Amin. Tujuan pertemuan untuk mendoakan Marhaen dan Yoyok. Acara di pimpin oleh Ustadz Mochsoum.
Pagi sekitar jam 08.00, Aku diantar oleh Adik Ku berangkat menunju ke tempat makam kedua orang tuaku,  Sarean Pekuncen Desa Kalibuntu Wetan Kecamatan  Kendal. Sarean dikelola oleh Yayasan Persatuan Wredatama Seluruh Indonesia (PWRI)  Kendal. Salah satu pengurusnya adalah Pak Yono. Selesai membersihkan dan berdoa perjalanan dilanjutkan ke tempat Kakak Ku yang berada di sebelah gedung SMA N 1 KENDAL. Sudah menjadi kewajibanku setiap Aku ke Kendal selalu ke tempat Kakak Ku yang tertua.
Sekitar jam 09.50, Budi Yuwono dan Jasno menjemputku. Sungguh surprise Budi Yuwono bisa mengendari mobil, mengingat ketika reuni di Lik Ut, Budi Yuwono  mengalami kesulitan berjalan, terkena stroke ringan pada kakinya. Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh.
“Adoh ra omahe Ristanto” Tanya ku.
“Aku yo... ra ngerti. Pokok e ,  Desa Podosari – Cepering ” Jawab Budi Yuwono .
“We....., lha dalah, arep reunian, ning ora ngerti omahe. Iki piye to.. .. “Pikirku
“Yo wis di wenehi ancer-ancer, engko belokan pertama soko Kali Bodri menggok kiri.” Kata Budi Yuwono .
Benar saja tak berapa lama kendaraan belok kiri, melewati jalan kabupaten. Kondisi jalannya tidak sebagus jalan nasional. Banyak lubang lubang di tengah jalan. Mungkin untuk membiayainya Pemda Kabupaten Kendal tidak punya uang. Beberapa kali Aku bertanya sama penduduk tentang Desa Podosari. Akhirnya ketemu Lik Ut di persimpangan (Lik Ut seperti nya di tugaskan). Oleh Lik Ut ditunjukkan arah Desa Podosari.  Jalannya mulus sudah di beton. Jauh lebih bagus daripada jalan kabupaten. Aku yakin jalan ini di biayai oleh Dana Desa dari Pemerintah. Mobil berjalan dengan perlahan menyusuri jalan desa, setelah agak jauh dan melewati Masjid Desa yang megah, Aku dan Budi Yuwono  mulai curiga. Koq tidak ketemu rumahnya? Apa salah jalan?
“Bud, stop disik, Aku arep takon karo penduduk nang kene.” Kata Ku
Beberapa kali Aku bertanya kepada penduduk, akhirnya ketemu  juga. Rupanya mobil sudah berjalan terlalu jauh dari rumah Ristanto.
Rumah Ristanto cukup besar, mungkin sekitar 600 meter persegi dengan halamannya. Ya..., itu sudah biasa bagi rumah di desa, apalagi rumahnya peninggalan orang tuanya. Di halaman bagian kiri, yang dulunya banyak tanaman mangga sudah diganti dengan tananam Gelombang Cinta. Ristanto nampaknya pecinta tanaman, selalau mengikuti tanaman yang lagi ngetred. Memang daun tanaman Gelombang Cinta sangat indah (bagi pecinta tanaman). Sayang tanaman tersebut kini hanya di kenal namanya saja. Tidak sehebat pada masa jayanya.
Yang sudah hadir lumayan banyak. Sebagaian besar sudah pernah ketemu di beberapa kali reuni, sehingga aku tidak pangling lagi. Namun ada 2 “teman” baru. Pertama Mas Chusnun, meski sudah sering komunikasi via WA, dan juga lihat fotonya di WA, namun ketemu di darat, agak lama baru mengenalinya. Kedua Gufron, wajahnya  tidak berubah, sehingga Aku dengan cepat mengenalinya. Dengan keduanya baru kali ini ketemu setelah lulus dari SMA. Kalau lulus tahun 1973 dan sekarang tahun 2018, artinya 45 tahun baru ketemu. Ini lah salah satu manfaat dari reuni.
Hadir dalam pertemuan reuni adalah :  Mas Ristanto sebagai tuan rumah, Mbak Nunuk, Mbak Nina, Eyang Retno, Mbak Hermin, Tuti, Eyang Rubiyatun, Eyang Haryuti, Mbak Tri Yuniyarti, Om Tedjo, Om Edi Prapto, Mas Chusnun, Mas Gufron, Ustadz Mochsoum, Ustadz Matrhodi, Mas Budi Yuwono, Lik Ut, Om Basuki, Yuliyanto, Mas Jasno, Mbah Ichsan, Om Rinenggo, Mas Eko, Mas Sudiyo, siapa lagi ya... Beberapa Alumni membawa mantan pacar, seperti Om Tedjo, Mas Chusnun, Mas Gufron, Mas Basuki (siapa lagi ya...). Tidak lupa beberapa Bapak dan ibu guru  : Pak Yono, Pak Tomi, Ibu Panti serta pegawai tata usaha, Pak Gayus. Bapak Mahyudin yang biasanya selalu hadir dalam reuni sudah meninggal.
Di meja sudah tersedia aneka makanan, ada makanan tradisional : lemper, pisang rebus, pisang goreng, asinan Bogor ada makanan modern : roti, bolu dll. Aku sampai tidak hafal karena banyaknya. Pokoknya, makanan sangat berlimpah, beberapa teman membawa juga makanan dari daerahnya masing-masing. Mas Chusnun membawa : pisang kepok, kelapa muda, Mas Eko membawa rambutan, Eyang Rubiyatun membawa pilus, dan masih banyak teman teman yang membawa makanan, Aku tidak ingat satu persatu. Apalagi makan siangnya, lauknya cukup komplit. Enak tenan.... (siapa yang ingat, apa saja...).
Acara biasa acara dibuka oleh Mbak Nina sebagai sekretaris, dilanjutkan sambutan dari Mbak Nunuk sebagai Ketua dan Mas Ristanto sebagai tuan Rumah, serta Pak Yono sebagai bapak guru. Seperti biasanya, dalam setiap pertemuan alumni, Ketua selalu membagikan bingkisan kepada Bapak dan ibu guru serta pegawai tata usaha. Pada saat itu juga di umumkan bahwa Setiyono sedang sakit. Informasi yang Aku peroleh kehidupan Sutiyono sangat memprihatinkan. Sutiyono tidak berkeluarga. Disarankan untuk tinggal di rumah jompo, tetapi Sutiyono tidak mau. Tidak bebas katanya. Sehabis acara akan ada perwakilan SMA 1971 menjenguknya, untuk itu para alumni diminta kerelaannya memberikan sumbangan. Ini lah manfaat reuni yang lainnya. Menjenguk sahabat yang sakit, untuk memberikan semangat.
Ristanto sebagai tuan rumah



                                                 ALUMNI SMA N KENDAL 
Sesi foto bersama merupakan acara yang wajib diikuti para alumni yang hadir, sebagai dokumentasi dan sekaligus menunjukkan kekeluargaan dari para alumni.
 Ada 2 (dua) kesepakatan dari reuni yaitu : 1 ) reuni berikutnya akan di laksanakan di Pekalongan dengan tuan rumah Rubiyantun dan 2)  pembagian kelompok untuk memudahkan pelaksaan reuni.
Ada 4 (empat) kelompok, yaitu : Kelompok  Kendal, Kelompok Semarang, Kelompok Luar Kota, dan  Kelompok  Jakarta  dengan anggota sbb. :
KELOMPOK  KENDAL (24 orang) : Kirana,  Edy Prapto,  Pristiwati,  Yulianto,  Budi Yuwono,  Joko Pramono,  Basuki,  Sudiyo,  Ristanto, Bambang  Utono ,  Sutiyono,  Matrodhi, Chusnun,  Gufron,  Umi Kulsum, Moch Ichsan, Jasno, Suwarto, Bambang Mulyanto, Giyono, Siswoyo, Mindarsih, Maturi, Moch Soum, Slamet Wicaksono.
KELOMPOK SEMARANG (16 orang) :  Nunuk, Herminingsih , Haryuti,  Rinenggo, Tri Yuniarti, Eko Rahono,  Edi Susilo,  Retno Muninggar,  Siti Aminah, Rahardjo,  Sumadi,  Suminto, Dhanisworo, Martati, Nining, Sunardi.
KELOMPOK LUAR KOTA (13 orang) :  Nurul,  Umi Tyastuti, Umi Lestari;  Rubiyatun,  Pudji Astono,  Yuniati,  Harry Tri,  Joko Wahyono,  Melani,  Anwar,  Syamsul, Fridawati, Sartono.
KELOMPOK  JAKARTA  (13 orang) : Mulyono, Tedjo Rumekso, Muchtadi, Purwadi, Susmoyowati, Bambang Winarto, Harkrisnomo,  Sudirno, Kusyono, Zaenal,  Hambali, Purwanti, Sri Widodo.
Acara di akhiri sekitar jam 13.45. Sungguh suatu pertemuan yang mengesankan. Sebelum pulang, panitia memberikan bungkusan yang cukup besar. Entah isinya, nanti baru ke tahuan setelah di buka.
Sebagaimana berangkatnya, pulangnya Aku tetap bersama Budi Yuwono dan Jasno. Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan ke rumah Adik Ku.
Sampai di rumah Adik Ku, yang pertama Aku lakukan adalah membuka bungkusan yang cukup besar. Ternyata isinya macama-macam, kebanyakan makanan : pisang kepok satu sisir (Pasti dari Mas Chusnun), roti, pisang rebus, kerupuk petis, pilus, makanan apa lagi ya......, Souvenir SMA Ganesha (Pasti dari Mas Basuki) dan jam dinding dengan foto Ristanto. Kreatif juga Mas Ristanto, karena kalau lihat jam dinding pasti akan teringat Mas Ristanto.
Makan malam bersama saudara : Kakak, Adik dan juga para keponakan beserta anak-anaknya dari Semarang, Pati dan Kendal. Ramai juga seperti hal reuni yang baru saja Aku hadiri. Dilanjutkan dengan ngobrol tentang keluarga serta pertemuan keluarga Wirjoatmodjo yang akan diselenggarakan di Cirebon setelah hari Raya. Pertemuan keluarga dilakukan 2 (dua) tahun sekali yang dihadiri oleh keluarga Wirjoatmodjo yang jumlahnya mencapai ratusan orang.
Sehabis ba’da Isya, dengan di antar keponakan Ku, Aku berangkat menuju stasiun Tawang Semarang. Perjalanan lumayan lancar, hanya mendekati  stasiun Tawang tersendat. Seperti hal nya, di stasiun Gambar, tiket di scan, maka akan keluar “boarding pas”, yang menunjukan gerbong dan tempat duduk.
Gorbang yang akan ke tempati merupakan Gerbong Priority, yakni kelas bisnis yang tertinggi di KA. Ini gara-gara cari tiket Semarang – Jakarta sudah habis semuanya, tinggal kelas priority. Maklum hari Jum’at nya merupakan tanggal merah, sehingga banyak penumpang yang pesan pada hari Minggu untuk ke Jakarta. Tapi ya..., nggak apa-apa demi reuni, tiket apapun akan Aku beli. Jadi saran untuk pengurus, kalau mengadakan reuni tidak usah mengambil hari yang ada libur panjangnya. Nanti yang dari luar kota akan mengalami kesulitan dalam pembelian tiketnya. Bukankan menurut kita  semua tanggal merah semuanya.
  KA Semberani masuk Stasiun Tawang sekitar jam 09.45. Aku kurang tahu apakah dari Surabaya atau Solo.Gerbong Priority tetapi berada di rangkaian paling belakang.
Ketika masuk ke gerbong, woow...., betul-betul gerbong mewah. Desain interior didominasi dengan  kayu jati. Ruangannya  sangat sejuk dari pendingin ruangan atau AC. Kursi penumpang memiliki ukuran lebar dan luas dan jarak panjang antara satu kursi dengan kursi lainnya cukup panjang sehingga membuat penumpang merasa nyaman. Pada kursi juga di sediakan selimut. Pramugara dan pramugari disediakan secara khusus untuk melayani penumpang. Fasilitas Gerbong Priority bahkan tidak kalah dengan fasilitas yang ada di pesawat Garuda.
Ketika sudah duduk, pramugari langsung menyuguhkan minuman jus dan juga snack. Perkara makanan dan minuman disediakan secara gratis dan diambil secara bebas di cafe nya. Fasilitas toilet tersedia dengan cukup luas, bersih dengan interior yang cukup mewah.
Keanehan gerbong di belakang sempat Aku tanyakan. Penjelasan dari Pramugara adalah sebagai berikut : Gerbong Priority adalah gerbong istimewa, tidak boleh penumpang dari gerbong lain lalu lalang di gerbong ini. Makanya, Gerbong Priority hanya akan ada di depan (belakang KA) atau paling belakang dalam rangkaian kereta. Kalau KA ini berangkat dari Jakarta, maka Gerbong Priority akan berada di depan, tetapi karena ini dari Surabaya, maka Gerbong Priority berada di belakang. Itulah penjelasannya.
Jam 04.00 kereta sudah masuk Jatinegara. Aku pilih turun di Jatinegara ketimbang Gambir, karena dari Jatinegara telah tersedia KRL ke Bogor, meski harus menunggu 1 jam. Perjalanan Jatinegara ke Bogor memerlukan waktu 2 jam. Sampai di rumah, Senin jam 07.30. Istri sudah menunggu di depan pintu.
Reuni yang mengesankan, entah 6 (bulan) ke depan apakah Aku masih bisa menghadirinya. Ya...., meski hanya sekedar bertemu, bersalaman, berpelukan dengan sahabat SMA angkatan 1971. Tapi...., itulah salah satu milik Ku yang paling berharga PERSAHABAT. (TAMAT).


Minggu, 17 Maret 2019

REUNI SMA N KENDAL DI LIK UT



REUNI SMA N KENDAL DI LIK UT
Entah, Aku tidak tahu, reuni Angkatan 1971 SMA Negeri Kendal hari Minggu, 31 Juli 2016 itu, merupakan reuni yang ke berapa. Reuni diadakah  dirumahnya Lik Ut yang beralamat di Plongkowati 37 Purin Kendal. Lik Ut adalah nama panggilan Bambang Utono sekarang. Memang pengurus Alumni   dengan Ketua Suku  nya Mbak Nunuk,  secara rutin menyelenggarakan reuni setiap 6 (enam) bulan sekali. Hanya saja, Aku tidak dapat menghadiri reuni secara rutin. Aku sudah 4 (empat) kali menghadiri reuni. Pertama, reuni yang Aku hadiri sekaligus juga sebagai “panitia” adalah yang diselenggarakan di Jakarta-Bogor tanggal 25-26 Juni tahun 2011. Menurut ku, reuni tersebut merupakan reuni akbar, reuni terbesar yang pernah di selenggarakan. (Mulyono dan Tejo nanti akan bercerita). Kedua, reuni yang diselenggarakan di Joko Wahoyono, (tanggal, bulan dan tahun Aku sudah lupa) Yogya (Harry dan Joko nanti akan bercerita). Ketiga, reuni yang diselenggarakan di Tirto Arum Kendal (tanggal, bulan dan tahun Aku sudah lupa, Siapa yang akan bercerita?). Dan yang ke 4 (empat) diselenggarakan di Lik Ut.
Bambang Utono yang Aku kenal semasa SMA adalah anaknya Kepala Desa Podosari Cepiring.  Di SMA,  Bambang Utono mengambil jurusan Sosial ketika naik ke kelas 2. Anaknya alim,  pakaiannya rapi. Kala kelas 2 dan kelas 3, Bambang Utono pacaran sama Soepijati, jurusan Sosial juga. Soepijati juga anak Kepala Desa/ Lurah Balok. Menurut Bambang Utono, Soepijati gadis yang cantik. Kulitnya putih dan  matanya besar. Ciri khasnya  Soepijati adalah rambutnya ikal. Bahasanya Nurul, rambutnya Pijati kiwil-kiwil. Ciri lainnya adalah kegemarannya  memakai anting-anting  besar di telinganya. Pijati juga pandai menari tarian tradisional. Ketika itu tahun 1971, tepatnya bulan Oktober,  SMA N KENDAL merayakan hari jadi nya yang ke sepuluh. Acaranya cukup meriah dan salah satu acaranya adalah menampilkan tarian tradisional, dimana  Pijati sebagai penarinya dan Nurul salah satu pemukul gamelan. (Nurul dan teman teman lainnya silahkan di buka memorinya). Jadi,  ya…, cocok. Sama-sama anak Kepala Desa/ Lurah. Sepertinya, kenangan indah dengan Soepijati masih membekas di benaknya Lik Ut, karena dari WA yang Aku ikuti sampai detik-detik terakhir pelaksanaan reuni, kedatangan Sopijati masih dinantikan. Sayangnya, Soepijati tidak hadir.  
Memori lain yang ada di kepala ku tentang Bambang Utono, adalah ketika Bambang Utono membawa mobil sedan warna putih ke sekolah, padahal semua siswa hanya jalan kaki atau naik sepeda. Untuk menunjukkan ketidaksetujuannya mobil tersebut di dorong ke kebun pisang di belakang sekolah. Setelah lulus dari SMA N Kendal, Aku tidak tau lagi perkembangan Bambang Utono. Hanya di reuni ke tiga, Aku memperoleh informasi dari Yulianto, kalau Lit Ut menjabat sebagai guru SMK di Kabupaten Kendal setelah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi.  Memang  Lit Ut cocok jadi guru. Wajah dan  penampilannya menunjukkan seorang pendidik, wajah Umar Bakrie.  Bahkan setelah pensiun, Lit Ut mendirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Ruar…. biasa…..
Satu bulan sebelum acara reuni, Mbak Nunuk sebagai Ketua Suku,  telah mengumumkan melalui WA tentang reuni tersebut.  Di dalam pengumuman tersebut juga disampaikan adanya  iuran wajib bagi alumnus sebesar Rp. 10. 000,- per bulan yang di bayar 6 (enam) bulan sekali. Ternyata,  Aku salah baca di WA, pikir ku Rp. 60.000,- sebulan, Aku bayar sekaligus satu tahun, jadi berapa tuh… 12 x Rp. 60.000,- = Rp. 720.000,-. Ya…., maklum …., tanda-tanda ketuaan sudah melekat pada diriku, salah baca.
Dua minggu sebelumnya, di WA juga, ramai dibicarakan mengenai makanan kenangan masa lalu yang perlu disiapkan oleh Lik Ut. Ada ketak, ada plonyo, ada lele bakar, ada…., pokoknya banyak banget. Sepertinya Lik Ut juga tidak keberatan dengan keinginan teman-teman. Lik Ut ingin berbuat terbaik dalam melayani teman-teman. Semua usulan makanan di tampung dan akan disediakan pada  saatnya nanti. Kelihatannya teman-teman rindu dengan berbagai makanan masa SMA dulu yang tidak dijumpai di daerahnya masing-masing.
Segera setelah mendengar pengumuman dari Mbak Nunuk, Aku kontak Mulyono dan Tejo tentang reuni tersebut, dan Alhamdulillah…., kedua sahabatku itu juga akan hadir. Rasanya kurang berkesan jika reuni hanya di hadiri sedikit alumnus. Rencana kehadiran Mulyono dan Tejo, membuat Aku semangat. Aku cari informasi harga tiket murah ke Semarang. Apakah naik  kereta api atau pesawat terbang. Setelah searching di internet, Aku mengetahui ternyata kereta api tidak mengenal tiket murah, tidak seperti halnya pesawat terbang. Pesawat terbang pun yang menjual tiket murah hanya beberapa maskapai dan yang paling murah adalah pesawat Lion. Aku sadar bahwa Lion  sering terlambat. Namun, bagi ku, terlambat satu atau dua jam tidak masalah.  Maklum sudah pensiun. Segera Aku putuskan untuk naik Lion, karena kalau beli tiket berdekatan dengan hari H nya, harga tiket menjadi lebih mahal.  Bayangkan harga tiket pesawat Lion hampir sama dengan harga tiket kereta api. Untuk memudahkan perjalanan Aku beli tiket pergi pulang. Pergi  hari Sabtu, 30 Juli 2016 jam 13.00 dan pulang , Minggu, 31 Juli 2016 dengan pesawat yang sama jam 17.00. Aku sungguh kagum dengan kemajuan di bidang teknologi informasi. Pesan tiket cukup dilakukan melalui internet di rumah. Beli tiket via ATM yang tidak jauh dari rumah. Tinggal transfer, dan… tidak berapa lama tiket sudah diperoleh via email. Tiket tidak perlu di print, cukup ditunjukkan via smart phone . Luar biasa, bukan?
Pada hari keberangkatan, Sabtu  30 Juli 2016, jam 08.00, Aku sudah berangkat menuju terminal Damri di Baranangsiang, terminal khusus bis Damri yang akan menuju ke Bandara Udara. Di terminal Aku beli roti uyil dan kue tales Bogor, untuk kakak dan adik ku yang berada di Kendal, teman-teman alumni dan Tuti. Memang Tuti pesan roti uyil dan kue tales Bogor. Bis Damri ke Bandara Udara bagus-bagus. Tarifnya relatih murah, hanya Rp. 51.000,-. Perjalanan Bogor – Bandara Soekarno Hatta cukup lancar, karena melalui jalan tol (mengapa disebut jalan tol? Bukan jalan  til?), hanya memerlukan waktu sekitar 1.5 jam saja. Bandara udara sekarang tentu beda jauh dengan bandara tahun 1970 an. Bandar udara sudah seperti terminal bis. Penuh dengan penumpang. Naik pesawat udara sudah merupakan hal biasa bukan mewah lagi. “Everyone Can Fly " , begitu slogan Air Asia. Dengan ramainya issue teroris, pengamanan semakin ketat. Untuk masuk ke ruang tunggu saja semua barang bawaan di periksa, ikat pinggang di lepas, seluruh isi kantong harus dikeluarkan, harus  melalui X Ray Baggage Scanner. Bahkan topi pun haarus di lepas. Sangat ketat sekali.
Perjalanan Bogor – Kendal, cukup lancar. Di Semarang Aku dijemput Adik ku. Malamnya, Aku telpon Yulianto untuk datang ke rumah Adik ku.  Setiap Aku ke Kendal, Yulianto selalu aku telpon untuk menemani ngobrol dan jalan-jalan. Ya…, ngobrol tentang masa lalu, teman-teman yang ada di Kendal. Aku diajak Yulianto jalan-jalan melihat Kendal di waktu malam. Sampai sekarang rupanya di Kendal tidak ada tempat untuk sekedar nongkrong untuk ngobrol sambil makan dan minum.
Hari Minggunya, jam 08.30, Aku sudah berada di Perumda untuk menengok Kakak ku. Rumahnya persis  disebelah SMA Negeri I Kendal. Aku menunggu Yulianto untuk di jemput. Jam 10.00 Yulianto menjemputku bersama Mbak Nina dan Budi Yuwono. Bukannya langsung ke Lik UT, tetapi menjemput Ibu Supantin terlebih dahulu. Rumahnya Ibu Supantin tidak terlalu jauh dari Purin, di Desa Purwosari Kecamatan Patebon. Setelah melewati jembatan Kali Bodri , balik lagi melewati jembatan Kali Bodri lama, kemudian belok kiri. Rumahnya cukup besar, apalagi halamannya. Aku yang jemput dari rumahnya, menunggu sebentar, tidak berapa lama beliau sudah siap berangkat ke pertemuan alumni.
Ketika sampai di rumah Lit Ut, sudah cukup banyak teman-teman yang hadir. Aku salami satu persatu yang hadir. Beberapa teman yang cukup dekat Aku peluk. Menurut ku, yang hadir dalam reuni di Lit Ut lumayan banyak, sekitar 30 an, sekitar 30% dari jumlah alumnus 71, yang jumlahnya mencapai 112 orang. Aku mulai dari teman teman perempuan :  Mbak Nunuk, Mbak Nina, Tyastuti, Haryuti, Retno Muninggar, Yuniarti, Umi Kholsum, Nurul, Melani, Rubiyatun, Hermin, Pristiwati, sedangkan teman teman laki-laki adalah : Mulyono, Tejo, Kusyono, Joko Wahyono, Harry, Yoyok, Nardi, Slamet, Mohsoum, Matrodi, Edy Prapto, Yulianto, Budi Yuwono, Pramono, Ikhsan, Eko Rahono, Edy Sus, Raharjo, Sudiyo, Rinenggo, Rahman,  Basuki, Maturi dan Lit Ut (tuan rumah), yang lainnya Aku lupa namanya, meski ingat wajahnya. Ada beberapa teman “baru” yang Aku jumpai  setelah lebih dari 43 tahun tidak ketemu : Mohsoum, Nardi (cumplung,), Slamet Wicaksono dan Edi Sus. (Mohon info nomor telpon Edi Sus). Aku masih mengenal mereka dan mereka pun masih mengenal ku. Sebenarnya Aku kecewa berat dengan Itung. Dalam WA, Itung selalu janji akan hadir, ternyata pada hari H nya, tidak dapat hadir. Tapi ya…, gimana, mungkin ada acara yang lebih penting. Dalam WA, Itung juga janji akan membawa lanting. Aku tidak tau apa lanting itu. Yang jelas makanan.  Beberapa teman membawa mantan pacarnya seperti Tejo dan Retno Muninggar. Aku tidak tau mantan pacar yang keberapa, yang jelas merupakan mantan pacar yang terakhir. (Hallo Tejo, hallo Retno, cerita dong tentang mantan pacarnya). Menurut Retno, Basuki, Sudiyo, Maturi dan Eko Rahono juga datang bersama mantan pacarnya.
Gambar : Ketua Suku dan Sekretaris
Sementara bapak dan ibu guru yang hadir adalah : Bapak Suyono, Mochtomi, Mahyudi, dan Ibu Supantin serta bapak Jayus pegawai tata usaha. Beliau selalu hadir setiap kali diundang acara alumni. Aku sungguh kagum kebugaran dan kesehatan beliau. Paling tidak usianya di atas 75 (tujuh puluh lima) tahun. Beliau beliau awet tua, sementara alumnus 71 cepat tua. Tidak bisa dibedakan lagi mana guru mana murid. Sama sama tua nya.
Seperti biasanya, acara formal dimulai dengan sambutan dari Ketua Suku,  sambutan tuan rumah dilanjutkan dengan pemberian cindera mata kepada bapak/ibu guru dan foto bersama. Namun, Aku tidak yakin apakah teman teman mendengarkan apa yang disampaikan Ketua Suku dan tuan rumah. Maklum mereka asik sendiri ngobrol dengan teman teman lamanya.
Aku perhatikan teman-teman. Alangkah bahagianya. Duduk bersama sambil makan cemilan,  ngobrol masa lalu, masa ketika masih duduk bersama di SMA. Juga obrolan tentang kesehatan, tentang cucu, tentang anak.  Edy Prapto yang dulu mengalami stroke dan bicaranya agak cadel sudah semakin baik perkembangannya. Budi Yuwono kena stroke ringan, jalannya pelan sekali, tidak dapat berjalan secara normal.  Matrodi yang 2-3 bulan lalu dioperasi jantungnya, nampaknya sudah mulai sembuh. Demikian pula Rahman sudah sembuh dari penyakit paru paru nya. Alumnus, dengan kehadirannya di kala mereka sakit menurut ku  mempercepat kesembuhan mereka.
 
Gambar 2. Lit Ut didampingi istrinya sedang memberikan sambutan.
Seperti janjinya di WA, Lit Ut memang menyediakan makanan sesuai permintaan teman-teman. Untuk cemilan Aku sangat menikmati. Berbagai makanan dari ketan disediakan. Nikmat sekali. Namun untuk lauk makannya, jadi problem bagiku. Semuanya pedas pedas. Perut ku sudah tidak dapat menerima cabai. (Dokter Nurul, apa obatnya?). Ketika sedang makan siang, Yoyok menghampiriku. Aku tarik kursi disebelahku untuk Yoyok. “ Ayo , makan bareng .” Kataku. “Wa…ah iwak e pedes tenan .” Kataku melanjutkan.  “Piye mbang,  pedes, …, ganti wae.” Kata Yoyok. Itulah perjumpaan terakhir dan kata terkahir dari Yoyok. (Yoyok meninggal dunia 9 hari setelah acara reuni di Lik Ut, tepatnya hari  Selasa 9 Agustus 2016). Aku memilih untuk tidak makan siang. Bagiku cemilan yang disediakan sudah cukup untuk mengurangi rasa laparku.
Aku sadar sepenuhnya bahwa Aku sudah mulai pelupa. Tetapi pelupa Tejo lebih parah lagi. Ketika itu Nurul menghampiri Tejo, sambil berkata.” Om Ted, hayo…, Aku sopo?” Kata Nurul. Tejo diam saja, wajahnya menunjukkan kebingungan.  Sambil menari nari  di hadapan Tejo, Nurul menggodanya. “Kalau sekolah setiap hari Aku lewat rumahnya Om Ted.” Kembali Nurul berkata memberikan informasi bahwa rumahnya tidak jauh dari rumah Tejo. Tetapi, ya…. Itu, namanya lupa ya…., lupa. Padahal pertemuan di Jakarta 2011, Nurul hadir.  Kelupaan Tejo lainnya lebih parah lagi. Ketika itu, Aku Yulianto, Edy Sus dan Tejo lagi ngobrol bersama. Aku pikir  Tejo sudah mengetahui tentang Edy Sus. Ternyata belum. Kemudian Tejo bertanya kepada Yulianto. “Yul,…iku sopo?” Katanya pelan. “ Lho…., iku kan Edy Sus, putranya kepada TU SMA.” Kata Yulianto. Tejo segera melompat dari tempat duduk dan dipeluknya Edy Sus. Luar biasa pelupanya. Kalau Tejo lupa sama Matrodi atau teman teman dari jurusan Sosial atau Budaya, Aku dapat memaklumi. Tetapi…., Edy Sus itu kan termasuk teman karib, hari harinya bermain di rumahnya Tejo saat di SMA. Aku sendiri dapat mengenali Edy Sus dari tatapan matanya. Ya…, mata bagiku adalah kunci pengenalan terhadap teman. Jadi kalau Tejo rajin WA sama mbak Itung, mbak Yuni atau  mbak mbak yang lain belum tentu  Tejo akan mengenali mbak mbak sekalian jika bertemu.

Gambar : Alumnus SMA N KENDAL
Waktu dari jam 10.00 sampai dengan jam 14.00 rasanya cepat sekali berputarnya. Perjumpaan yang hanya sekitar 4 (empat) jam rasanya masih kurang. Masih banyak di obrolkan. Namun, yang memang itu ketentuannya, jam 14.00, acara akan diakhiri. Sekitar jam 13.30, teman-teman sudah mulai ada yang pamit. Pengurus membagikan oleh oleh untuk bagi alumni. Aku juga memperolehnya, isinya macam-macam : bandeng lunak, kerupuk Kendal, krai, dan lain lain. Bahkan Aku memperoleh tambahan oleh-oleh lanting dari langsung dari Ketua Suku. Menurut Ketua Suku, wajah ku menunjukkan wajah berseri, “sumringah” bahasanya  Ketua Suku. Sepertinya Ketua Suku sama Retno sudah diskusi siapa yang akan di beri oleh oleh lanting. Menurut Retno, Aku sudah kangen banget sama lanting dan sekaligus untuk mengurangi kecewa barat ku, karena ketidakhadiran Itung. Terima kasih ketua, terima kasih Retno dan juga terima kasih Itung atas lantingnya.
Reuni berikutnya akan diselenggarakan di Yoyakarta pada bulan Desember 2016. Tuan rumahnya adalah Harry, Joko Wahyono dan Melani. Ini artinya, Yogya akan menjadi tuan rumah untuk yang kedua kalinya. Lantas,  Jakarta dan Bogor kapan menjadi tuan rumah lagi. Jawabannya sepenuhnya bergantung sama Mulyono dan Tejo. Aku akan setuju setuju saja.
Jam 14.00, Aku pamit, karena jadwal pesawat Lion jam 17.00. Aku harus beres beres terlebih dahulu dan akan membeli oleh oleh untuk keluarga ku berupa bandeng asap. Di Bandara Akhmad Yani Semarang ramai sekali dengan banyaknya penunpang dan pengantar. Untuk masuk bandara saja sudah antri.  Demikian pula di ruang tunggu bandara. Banyak penumpang harus berdiri karena tidak muatnya kapasitas ruang tunggunya. Pada saat lapor, pegawai Lion sudah memberi tahu bahwa pesawat Lion mengalami keterlambatan. Ya…., tidak apa apa, yang penting sampai. Tejo memberi predikat  LION = late is our nature.
Waktu tunggu Aku gunakan untuk makan sore. Aku pilih menu rawon panas komplit, tidak pakai cabai. Makan nasi plus rawon panas pada saat perut lapar dengan minuman air jeruk hangat. Waaaa…ah, nikmat sekali. Pada saat makan sore, Aku lihat Tejo bersama mantan pancarnya. Selang agak berapa lama Mulyono menyusul. Aku dan Tejo satu pesawat sedangkan Mulyono penerbangan Lion berikutnya. Setelah menunggu sekitar tiga jam dari jadwal semula, akhirnya pesawat Lion berangkat jam 08.00. Perjalanan dari Bandara ke Bogor cukup lancar dengan menggunakan bis Damri. Sampai rumah sekitar jam 11.00. Capeknya luar biasa, namun setara dengan rasa kangen ku berjumpa dengan teman teman lama semasa SMA. Mulyono, Aku dengar sampai di rumah jam 03.00 pagi. Ya… itu juga setara dengan kerinduan bertemu dengan teman teman lama Kendal.
Rupanya, waktu yang hanya 4 (empat) jam di Lit Ut masih dirasakan kurang. Kerinduan masih berlanjut di WA.  Topik yang ramai adalah masalah lanting. Entah kenapa. Mungkin teman teman masih penasaran karena belum pernah melihat dan merasakan lanting. Kalau begitu Aku hanya dapat memberikan gambarannya saja. Lanting adalah makanan cemilan yang terbuat dari ketela. Bentuknya bundar seperti anting-anting. Jika pernah lihat anting-anting Pijati (Lihat gambar Pijanti bersama teman teman SMA yang pernah Aku unggah), maka ukuran lanting lebih kecil sedikit. Rasanya gurih, ada rasa manis manisnya sedikit. Kalau di kunyah, kriuuuk…., kriuuuk…., kriuuuk…... Enea…k tenan. Sangat cocok di cemil saat nonton televisi, terutama saat nonton sepak bola. Aku makannya sedikit sedikit, biar tidak cepat habis, kira kira satu minggu lanting baru habis. Jika teman penasaran ingin merasakan gurihnya lanting, silahkan kontak Itung.
Topik lainnya yang tidak kalah ramainya adalah reuni yang akan dilaksanakan di Yogya. Saking semangatnya, Harry sudah orientasi lapangan, mencari lokasi yang representative. Ada wacana, lokasi nya  sekitar candi Prambanan, karena malamnya teman teman akan melihat sendratari  Ramayanan di candi Prambanan. Ide yang bagus.
Reuni selalu menimbulkan kerinduan akan masa lalu, masa masa penuh kenangan di SMA. Semoga Allah SWT memberiku, kesehatan, rejeki dan kesempatan sehingga Aku dapat menghadiri reuni yang akan datang.
Terima kasih Lik Ut atas segala jerih payahnya dalam menyelenggarakan reuni , terima kasih pengurus Alumni SMA N KENDAL 71 dan terima kasih teman teman atas kehadirannya pada reuni tersebut. Semoga kekeluargaan di antara para alumnus selalu terjaga kekompakkannya, dan jika ada kata-kata ku yang kurang berkenan, mohon dimaaf kan. Salam kompak selalu.

Bogor 3 September  2016.


Kamis, 14 Maret 2019

TRAGEDI BOJA

TRAGEDI BOJA
Kala itu,  hari Minggu, bulan dan tanggalnya Aku sudah lupa, tetapi tahunnya Aku masih ingat, tahun 1973. Ulangan umum triwulan 2 baru saja berakhir. Kini saatnya untuk rilex sejenak, melupakan ulangan umum yang baru saja berlalu. Aku dan teman-teman akan ke BKPH (Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan) Boja. 
Jam 09.00, Aku, Tejo, Dirno, Kandar, Edy Sus, sudah berada di rumah Harry.  Dirno  datang bersama Kandar dengan sepeda motor Honda, Edy Sus bersama Tejo dengan sepeda motor Suzuki, Aku sendiri datang dengan mengendarai sepeda.
Satu minggu sebelumnya,  Aku, Tejo, Dirno, Kandar dan Edy Sus,  belajar di rumah Om nya Harry, Bapak Mu’ayat, yang menjabat sebagai Ajun Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (Ajun KKPH) atau Ajun Adm (Administratur) Perhutani Kendal. Dari informasi Harry, Aku mengetahui bahwa Bapak Mu’ayat lulusan dari Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) Bogor. Rumah dinasnya berada di ujung paling kanan komplek Perhutani Kendal. Sebagai Ajun Adm, fasilitas yang diterima termasuk kategori mewah. Rumah dinasnya besar dengan perabot lengkap disertai mobil dinas hartop. Itu pula yang mengilhami Aku untuk melanjutkan ke Fakultas Kehutanan. Putra Bapak Mu’ayat ada 4 (empat) orang, 2 (dua) laki-laki dan 2 (dua) perempuan. Dua orang duduk di di bangku SMP, satu di SD dan satu di TK. Dengan demikian, Harry merupakan “anak” tertua dari Keluarga Bapak Mu’ayat.
Tidak seperti biasanya, Bapak Mu’ayat mendatangi kami yang sedang belajar di ruangan belakang. Aku dan teman-teman diam, menunggu apa yang akan disampaikan Bapak Mu’ayat.
 “Bagaimana apakah sudah siap dengan ulangan umum?” Tanya Bapak Mu’ayat.
“Sudah Om. “ Jawab Kandar.
“Iya…, Harry mengalami kesulitan pelajaran Ilmu Ukur Sudut. Tolong di bantu ya”….Kata Bapak Mu’ayat.
Aku pikir Bapak Mu’ayat mengetahui bahwa Harry lemah dalam pelajaran Ilmu Ukur Sudut atau bahasa ilmiahnya geniometri. Memang untuk menguasai pelajaran ini harus hafal sangat banyak rumus serta harus banyak latihan mengerjakan soal.
“Kalau Ilmu Ukur Sudut, Mbang Win  yang paling pandai.” Kata Dirno sambil menunjuk kepada ku.
Bapak Mu’ayat melihat ke arah ku. Aku diam saja.
“Oh… ya, kalau sudah lulus, nanti melanjutkan kemana?” Kembali Bapak Mu’ayat bertanya.
“Tejo, Mbang Win, dan Dirno ke Fakultas Kehutanan, Edy Sus ke Fakultas Teknik dan Saya sendiri akan ke IAIN.” Kembali Kandar menjawab sambil menunjuk Aku, Tejo,  Dirno dan Edy Sus.
 “Waaa…h, bagus semua, Kalau Harry akan ke Fakultas Pertanian.” Jawab   Bapak Mu’ayat.
“ Baik…., silahkan lanjutkan belajarnya. Saling bantu-membantu ya…. Semoga sukses dan tercapai cita-citanya. “ Kata Bapak Mu’ayat.
“ Baik Om…, terima kasih. ” Jawab kami serempak.
“Nanti kalau sudah selesai ulangan umum, jalan-jalan ke hutan, lihat hutan, supaya lebih mencintai hutan. Apalagi… tadi siapa…., Tejo, Mbang Win dan Dirno mau masuk Fakultas Kehutanan. Kepala BKPH Boja nanti tak kasih tau. ” Kata Bapak Mu’ayat.
Senangnya  belajar di tempat Harry, ruanganya cukup besar, terdapat papan tulis lengkap dengan peralatannya : kapur, penghapus, penggaris serta meja dan  kursi. Dan yang lebih menyenangkan lagi adalah banyaknya makanan yang disediakan : kacang goreng, pisang goreng, roti kering dan masih banyak lagi. Untuk minuman lebih hebat lagi, kulkas penuh dengan berbagi minuman : coca cola, sprite, fanta dan entah apa lagi serta buah-buahan. Kalau kepengin tinggal ambil.
Dengan mengendarai 3 (tiga) sepeda motor, Aku dan teman-teman berangkat menuju Boja. Aku membonceng Dirno, Kandar membonceng Edy Sus dan Tejo membonceng Harry dengan Honda bebeknya. Lokasi BKPH Boja berada di Desa Darupono Kecamatan Kaliwungu Selatan, jaraknya lumayan jauh dari Kendal, mungkin sekitar 30 km an.  Dari Kendal ke Kaliwungu melewati jalan utama, selanjutnya sampai pasar Kaliwungu, belok ke kanan, melalui jalan Kaliwungu – Boja.  Jalannya tidak terlalu lebar dan hanya berupa pengerasan saja. Sepeda motor dikendarai dengan pelan, kecepatan tidak boleh lebih dari 20 Km. Tidak berapa lama sudah memasuki kawasan hutan. Di kiri dan kanan jalan yang terlihat hanya hutan jati. Ada yang masih kecil, ada yang sudah besar, ada pula pohon jatinya besar tetapi tanpa daun. Seperti pohon mati. Sekitar 30 menit dari Kaliwungu dan setelah bertanya kepada penduduk lokasi kantor kehutanan,  rombongan sampai di kantor BKPH Boja. Kantor kehutanan di kecamatan mempunyai ciri yang mudah dikenali, berwarna hijau.
Sampai di BKPH Boja sekitar jam 10 an, rombongan  disambut Bapak Kepala BKPH Boja atau lebih dikenal dengan sebutan Bapak Sinder. Kami berenam turun, berjalan menuju Pak Sinder. Harry paling depan dan yang lain mengikutinya.
“Selamat siang Pak Sinder.” Kata Harry
“Selamat datang Mas Harry.” Jawab Pak Sinder.
Rupanya Harry dan Pak Sinder sudah saling mengenal. Ya…, wajar saja, mengingat Pak Sinder sering menghadap Pak Ajun Adm. Sebagai Sinder yang baik, tentu mengenal keluarga Pak Ajun Adm, termasuk Harry.
Harry memperkenalkan rombongan kepada Pak Sinder. Kami bersalaman satu per satu dengan Pak Sinder sambil menyebutkan namanya. Pak Sinder namanya Jati, lengkapnya Jati Mulyo. Cocok dengan pekerjaannya. Nama itu Aku ketahui dari papan nama yang terdapat di baju Pak Sinder. Orangnya masih mudah, sekitar 30 tahun an, gagah dengan pakaian kehutanannya. Di pinggangnya terselip senjata laras pendek, pistol. Mungkin Pak Sinder lulusan SKMA. 
 “Mari- mari masuk, ya…., beginilah rumah di desa.” Kata Pak Sinder.
Rumah dinas Pak Sinder berada di samping Kantor BKPH Boja, tidak terlalu besar, sederhana, namun bersih.  Aku perhatikan sekilas ruang tamunya. Pada dinding di pasang foto Pak Sinder lengkap dengan pakaian dinasnya dan Pak Sinder saat jadi pengantin. Istrinya cukup cantik. Di meja sudah disediakan minuman teh dan berbagai makanan : pisang goreng, singkong rebus, singkong goreng dan kacang rebus. Harry duduk di dekat Pak Sinder, sedang Aku, Tejo, Dirno, Kandar dan Edy Sus,  duduk  di kursi lainnya yang telah disediakan.
“Bagaimana perjalannya?” Pak Sinder mulai membuka percakapan.
“Alhamdulillah…, lancar.” Jawab Harry.
“ Syukurlah….” Jawab Pak Sinder.
“ Mari silahkan di minum dulu…, dan dicicipi makanannya. Ya… inilah makanan desa.” Kata Pak Sinder.
Harry minum teh, demikian pula yang lainnya. Selanjutnya Harry  mengambil pisang goreng, yang lain ikut pula mengambil makanan sesuai dengan seleranya masing-masing. Tejo mengambil singkong goreng, Kandar mengambil kacang rebus, Dirno mengambil  singkong rebus , Edy Sus mengambil kacang rebus dan Aku sendiri ikut Harry mengambil pisang goring.
“Pak Sinder, di Boja musim apa?” Tanya Harry.
“ Musim durian Mas Harry, nanti Mas Harry akan merasakan lezatnya  durian Boja.” Jawab Pak Sinder.
Pak Sinder sangat tanggap terhadap pertanyaan Harry. Itu baru pertanyaan Harry, bagaimana kalau yang datang Pak Ajun Adm, mungkin Pak Sinder harus pandai membaca pikiran Pak Ajun. Memang durian Boja sudah dikenal bagi penggemar durian di Kendal atau bahkan di Semarang. Aku sendiri kurang dapat membedakan rasa durian satu dengan durian lainnya.  Menurut lidahku semua durian enak.
“ Mas Harry…” Kembali Pak Sinder berkata. “Saya ditugaskan oleh Pak Ajun untuk mengantarkan Mas Harry dan rombongan melihat hutan jati. Nanti Mas Harry dan rombongan akan melihat petak 45, petak 55, dan petak 71. Pada petak 45 terdapat tanaman jati muda, petak 55 terdapat penjarangan jati, dan petak 71 melihat tanaman jati yang siap di tebang.” Kata Pak Sinder.
“Apakah lokasinya jauh?” Tanya Harry.
“Tidak, …ya… hanya sekitar 10 menit. “ Jawab Pak Sinder. “Kalau sudah siap, mari kita berangkat.” Kata Pak Sinder.
Kami keluar bersama. Di luar sudah menunggu “seseorang”, berpakaian kehutanan dengan membawa kelapa muda cukup banyak. Aku perhatikan sepintas, tidak kurang 15 butir.
“Pak Manteri, ini putranya Pak Ajun.” Kata Pak Sinder.
Rupanya “seseorang” tersebut adalah Pak Manteri. Pak Sinder memperkenalkan rombongan kepada Pak Manteri, demikian pula Pak Sinder memperkenal Pak Manteri kepada kami semua. Pak Manteri adalah sebutan popular untuk Kepala Resort Polisi Hutan (KRPH). Pak Manteri bernama Tunas, lengkapnya Tunas Rimba. Orangnya  sudah agak tua tetapi masih gagah, wajahnya keras, memakai topi lapangan  dan dipinggangnya terselip sebuah parang. Aku taksir usianya sekitar 45 tahunan.
“Pak Manteri, kita akan membawa rombongan melihat petak 45, petak 55, dan petak 71. Kita naik sepeda motor dan Pak Manteri satu motor dengan Saya.” Kata Pak Sinder.
Seperti kata Pak Sinder, petak 45, petak 55, dan petak 71, tidak terlalu jauh dari rumah. Apalagi di tempuh dengan menggunakan sepeda motor. Pada masing masing petak, Pak Sinder menerangkan dengan penuh semangat. Sesekali, Pak Manteri menambahkan. Dari tiga petak tersebut, Aku hanya tertarik pada petak 71. Di situ terdapat tanaman jati besar-besar, tetapi  sudah mati.

Pohon Jati Siap Tebang
Rupanya pohon jati tersebut sengaja dimatikan ketika masih berdiri untuk ditebang. Dua tahun sebelumnya semua pohon jati yang akan ditebang “diteres”, pada bagian bawah pohon, sekitar 1.5 meter dari tanah, kulit sampai kambium dipotong, sehingga aliran makanan terputus. Menurut pak Sinder, setelah ditebang semua pohon jati akan dibawa ke Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Gambilangu.
Sekitar jam satu an, rombongan kembali ke rumah Pak Sinder. Aku merasa mendapat tambahan pengetahuan tentang hutan jati dan semakin mantap untuk memilih Fakultas Kehutanan setelah lulus nanti.
 “Mas Harry dan rombongan, silahkan minum kelapa muda dulu. Setelah itu dilanjutkan makan siang. Ibu Sinder telah menyediakannya.
Pak Manteri dengan sigapnya memotong bagian ujung kelapa dan melubanginya untuk siap diminum. Aku dan teman-teman minum air kelapa langsung dari buah kelapanya. Alangkah nikmatnya minum air kelapa muda pada siang hari di saat cuaca panas. Rasa haus hilang seketika. Air kelapa satu butir habis seketika. Aku lihat Kandar masih kehausan dan minta kepada Pak Manteri satu lagi. Sementara, Aku dan teman teman lainnya hanya minta untuk dibelahkan kelapa mudanya dan selanjutnya makan kelapa muda. Nikmat sekali….
Sungguh luar biasa Pak Sinder dalam melayani Mas Harry. Untuk makan siang, Ibu Sinder menyiapan gado-gado  ditambah dengan ayam goreng dan kerupuk petis khas Kendal. Kami berenam makan dengan lahapnya. Aku perhatikan Kandar, Tejo, Dirno dan Edy Sus nambah nasi dan ayam goreng. Nampaknya, Harry cukup kenyang. Aku menahan diri untuk tidak menambah nasi, karena sebentar lagi pasti diminta untuk makan durian.
Benar seperti dugaanku, setelah makan siang, Pak Sinder telah menyediakan durian cukup banyak. Di depan rumah sudah disediakan kurang lebih 20 (dua puluh) buah durian. Kalau mencium baunya, pasti lezat. Aku yakin Pak Manteri telah memilihkan durian terbaiknya untuk kami semua.
“Mas Harry, silahkan di coba durian Boja nya.” Kata Pak Sinder.
“Waduuu…h, apa kuat perutnya.” Jawab Harry.
“Ya…., sekuatnya  saja, sisanya nanti di bawa pulang.” Kata Pak Sinder.
Harry, Kandar,  Dirno dan Edy Sus memilih durian sendiri, sedangkan Aku dan Tejo mengikuti dari belakang. Seperti biasa, Pak Manteri dengan sigapnya membuka durian satu per satu yang dipilih Harry, Kandar,  Dirno dan Edy Sus. Aku dan Tejo tinggal keliling ke tempat Harry, Kandar,  Dirno dan Edy Sus, untuk menikmati durian yang telah di bukanya. Menurutku, rasa durian memang enak. Tetapi anehnya, ternyata durian yang dibuka Harry, Kandar,  Dirno dan Edy Sus mempunyai rasa enak yang berbeda. Aku paling suka buah durian yang berwarna sedikit agak kuning. Manis legit. Kelihatannya Kandar dan Dirno penikmat buah durian. Satu buah durian sepertinya masih kurang, mereka membuka satu durian lagi.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan jam 15.30.
“Pak Sinder, kalau pulang lebih baik lewat jalan Boja - Mangkang - Kendal atau mengikuti route yang tadi pagi.” Harry minta pendapat kepada Pak Sider.
“ Lebih baik lewat Boja – Mangkang – Kendal. Boja tidak terlalu jauh. Jalan Boja ke Mangkang jauh lebih baik dibandingkan jalan dari sini lewat Kaliwungu Selatan.” Kata Pak Sinder.
“ Baik Pak Sinder dan Pak Manteri, mengingat waktu sudah sore, kami mohon pamit, terima kasih banyak atas sambutannya. Tolong disampaikan kepada Ibu Sinder, masakannya sangat enak. Nanti Saya sampaikan pada Pak Ajun atas sambutan dari Pak Sinder. “ Kata Harry.
Kami berenam menaiki sepeda motor. Ternyata pada masing-masing sepeda motor terdapat kelapa muda dan durian yang tadi tidak termakan. Kelapa muda ada 6 (enam) buah dan durian 10 (sepuluh) buah.
“Har…”. Kata Kandar. “Nanti kita mampir ke rumah Itung sebentar.”
“Kandar tahu rumahnya?” Tanya Harry.
“Ya…, nanti kita tanya, pasti orang Boja tahu rumahnya Itung.” Jawab Kandar.
Betul kata Pak Sinder, tidak berapa lama rombongan sudah sampai  simpang tiga.  Ke kiri jalan utama menuju Mangkang, sedangkan ke kanan menuju Pasar Boja. Rombongan berhenti untuk menanyakan rumah Itung. Aku turun menuju warung yang berada di tepai jalan.
“Permisi, mau tanya, rumah  Mbak Itung yang sekolah di SMA Kendal .” Tanya ku.
“ Oh…. Mbak Itung putrinya Pak Polsek …, ya….” Jawab penjaga warung.
“Ya…, betul, putrinya Pak Polsek.” Jawabku. “Rupanya Itung itu putrinya Pak Polsek”
“ Itu.., dekat Polsek, ya… sekitar 15 meteren.” Jawab penjaga warung sambil menunjuk rumah Pak Polsek.
Rombongan menuju rumah Itung yang berada di tepi jalan Boja-Mangkang. Jaraknya tidak jauh dari simpang tiga Boja. Setelah memakirkan sepeda motor, rombongan menuju rumah Itung. Kandar berjalan di depan.
“ Assalammulaikum.” Kandar memberi salam.
“Waalaikumsalam.” Jawabnya dari dalam rumah.
Terdengar jawaban yang tidak terlalu keras dari dalam rumah disertai langkah kaki menuju depan, dan muncul seorang ibu.
“Ini siapa ya…, dan ada perlu dengan siapa…? Tanyanya.
“Kami teman sekolah Itung, dari SMA Kendal. Tadi habis dari Pak Sinder Boja,  sebelum pulang mampir dulu ke sini.” Jawab Kandar.
“Oh…., mari silahkan masuk. Sebentar ya…, Saya panggilkan Itung.” Kata Ibu.
Melihat wajahnya, menurut ku, Ibu tadi Ibunya Itung. Kami berenam duduk di serambi depan. Ruangannya tidak terlalu luas. Selain meja dan kursi juga terdapat berbagai tanaman di dalam pot. Ada tanaman kuping gajah, pedang-pedangan, adenium dan tanaman lainnya yang Aku tidak tau namanya.
Tidak berapa lama Ibunya Itung keluar lagi.
“Sebentar ya…, Itung masih ganti baju.” Kata Ibunya Itung.
Lama juga menunggu Itung. Mungkin cari baju yang cocok. Sementara menunggu Itung, Ibunya Itung menemani kami berenam.
“ Ini liburan ya…,” Kata Ibunya Itung membuka percakapan.
“Ya…, Ibu.” Jawab Kandar.
“Satu kelas dengan Itung.” Tanyanya.
“Tidak Bu…, Itung di jurusan Budaya, sementara kami di jurusan IPA.” Kembali Kandar menjawabnya.
Aku juga tidak terlalu yakin apakah Ibunya Itung mengetahui perbedaan jurusan Budaya dengan IPA. Ibunya Itung mengamati kami satu persatu. Entah apa yang dipikirkan. Mungkin berpikir, temannya Itung itu gagah-gagah, cocok jadi temannya Itung.
“Sebentar lagi ujian ya…Kalau sudah lulus mau melanjutkan kemana? Kembali Ibunya Itung bertanya.
“Tejo, Mbang Win, dan Dirno ke Fakultas Kehutanan, Edy Sus ke Fakultas Teknik dan Saya sendiri akan ke AKABRI.” Kembali Kandar menjawab sambil menunjuk Aku, Tejo,  Dirno dan Edy Sus.
“ Di AKABRI nanti, Saya akan memilih jurusan Kepolisian.” Kata Kandar melanjutkan.
“Waa…h, Kandar ini memang hebat benar. Dihadapan Om nya Harry bilang akan melanjutkan ke IAIN. Di sini bilang akan ke AKABRI. Mungkin hanya untuk memudahkan pembicaraan dengan Ibunya Itung. ” Pikir ku.
“Ya…, itu pilihan bagus, seperti Bapaknya Itung. Jadi Polisi. ” Jawab Ibunya Itung.
Ternyata benar. Ibunya Itung mengikuti pembicaraan Kandar. Dalam hal ngobrol, Kandar memang jagonya. Aku harus belajar banyak dari Kandar. Obrolannya cukup lama, mengingat Itung agak lama juga munculnya. Kandar mendominasi obrolan, yang lain hanya sesekali menimpalinya.  Setelah cukup lama Itung baru muncul sambil membawa minuman dan makanan kecil.
“Itung…, Ibu masuk ya….” Kata Ibu Itung.
“ Ayo diminum.” Kata Ibunya Itung sambil meninggalkan kami menuju ruang dalam.
“ Haiii, Hallo Kandar, Harry, Tejo, Dirno, Edy Sus dan Mbang Win, ada acara apa ni… datang ke Boja. Datang koq… nggak ngasih tahu.” Kata Itung mengawali pembicaraan.
“ Iya…, ini dari Pak Sinder Boja, keliling hutan, sebelum pulang mampir sini, sekalian lihat Itung.” Kata Kandar.
“Itung, jadi orang kehutanan itu enak lho…. Tadi Harry hanya bilang “Pak Sinder musim apa di Boja”, maka muncullah buah durian. Makanya Aku, Mbang Win dan Dirno mau ke Fakultas Kehutanan.” Kata Tejo.
“Kalau Itung sendiri mau masuk kemana setelah lulus.” Tanya Tejo.
“Ya…, nggak tau.”Jawab Itung.
“Lho…, koq nggak tau.” Kata Dirno.
“Ya…, nggak tau, koq dipaksa-paksa.”Jawab Itung.
Aku tidak tahu, apakah Itung memang belum mempunyai rencana setelah lulus dari SMA atau sudah mempunyai masuk fakultas tertentu hanya belum mau menyampaikannya atau menunggu kepastian lulusnya dulu.
Itung nama panggilan. Aku hanya tau nama panggilannya saja. Menurut Dirno nama lengkap Itung adalah Umi Lestari, sedangkan menurut Edy Sus nama lengkap Itung adalah Itung Umu Lestari. Entah mana yang benar. Namun, kata William Shakespeare, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” (Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi).
Itung itu orangnya cantik. Kulitnya kuning, mukanya oval, rambutnya hitam,  tebal dan panjang sampai kepinggang. Ada rambut halus di keningnya. Giginya putih rapi dan matanya lebar. Aku dapat mengenali Itung hanya dengan melihat tatapan  matanya saja. Aku tidak tau, orang secantik Itung tidak punya pacar di SMA. Mungkin saja ada, hanya saja Aku tidak tau, atau mungkin saja sudah dijodohkan sama orang tuanya. Meskipun cantik, namun Itung itu rada galak sama laki-laki. Lengan ku pernah dicubit sampai berdarah dan berwarna biru. Kukunya runcing – runcing. Gara-garanya, waktu pulang sekolah, Itung masih berdiri di pintu keluar sekolah, Aku senggol dari belakang. Itung marah, Aku dicubitnya. Satu minggu lebih bekas cubitannya nggak hilang.
Enak ngobrol sama Itung dan setelah ngobrol yang cukup panjang, tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 16.45. Sore semakin gelap,  hujan rintik-rintik sudah mulai jatuh dari langit.
“Itung, mengingat sudah sore, kami pamit. Perjalanan masih jauh. Terima kasih atas penerimaannya, lain kali kami akan ke Boja khusus untuk mbak Itung. Ada sedikit oleh oleh dari hutan,  kelapa muda dan durian.” Kata  Kandar. “ Sus, tolong di turunkan beberapa kelapa muda dan durian untuk Itung.”  
Edy Sus keluar mengambil beberapa kelapa muda dan durian untuk diberikan kepada Itung.
“Terima kasih juga semuanya, atas kedatangannya, lain kali kalau ke sini tolong Saya diberi tau terlebih dahulu, supaya Saya dapat sediakan makanan khas Boja.” Kata Itung.
Kami semua meninggalkan Boja menuju Kendal melewati jalan Boja -  Mangkang. Cuaca sudah gelap disertai dengan hujan rintik-rintik. Lampu sepeda motor sudah dinyalakan. Kami mengendarai sepeda motor tidak terlalu cepat. Sekitar 45 menitan, Aku tidak tau,  entah di daerah mana, rombongan di hentikan oleh penduduk. Sepeda motor Dirno berada di paling depan, diikuti Edy Sus dan Harry. Jalanan menurun, di bagian bawah terlihat banyak orang berkerumun. Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba dari bawah terdengar teriakan yang ditujukan kepada kami. Namun,  teriakannya tidak terdengar dengan jelas. Tidak berapa lama Aku lihat seseorang berlari ke arah rombongan.
Tiba-tiba….
“Plak …..plak….” Dua tamparan mendarat di pipi Dirno.
“Tadi Saya sudah teriak – teriak, agar lampunya dimatikan. Tuli ya….. Silau….tau! Sekarang matikan!” Teriak orang tersebut.
Dirno, Edy Sus dan Harry mematikan lampu sepeda motornya. Aku lihat orang tersebut pakai seragam tentara dan di dadanya tertulis Babinsa. Kami diam saja. Pak Babinsa kembali turun ke bawah. Namun, sepertinya Pak Babinsa masih belum puas dengan 2 (dua) tamparan tadi, karena sambil jalan masih mengomel dengan kata-kata yang tidak pantas.
Cukup lama juga menunggu sampai diperbolehkan lewat. Rupanya di bagian bawah ada jembatan rusak. Aku lihat ada sebuah truk yang terperosok. Orang-orang lagi memperbaiki jembatan seadanya, agar dapat dilewati kendaraan.
Setelah melewati jembatan rusak tadi, perjalanan ke Kendal lancar. Sampai di Rumah Harry sekitar jam 19.30.
Aku lihat pipi kiri dan pipi kanan Dirno masih kelihatan merah. Untung giginya tidak rompol.
“Sakit Dir?” Tanyaku
“Ya… sakit lah.” Jawab Dirno dengan nada agak jengkel.
“Ini gara-gara Kandar, mengajak kita mampir di Itung.” Kata Tejo.
“Wis…, nggak perlu saling menyalahkan. Peristiwa tadi menjadi kenangan kita bersama, terutama Dirno. Aku yakin seumur hidupnya Dirno tidak akan melupakan peristiwa tersebut.” Kata Kandar.”
Ya…., ya….., ya…., betul kata Kandar, TRAGEDI BOJA tentu merupakan KENANGAN YANG TIDAK TERLUPAKAN bagi kami berenam.
Kini, 43 tahun telah berlalu…,
Aku masih ingat peristiwa itu,
Aku juga yakin Harry masih ingat peristiwa itu,
Aku yakul yakin bahwa Dirno tidak melupakan peristiwa itu,
Namun, Aku tidak terlalu yakin apakah Tejo dan  Edy Sus masih ingat peristiwa itu, dan…
Kandar tetap ada dalam kenangan ku. Sahabat, semoga engkau mendapat ampunan dari Allah SWT. Amin 3 X.

Bogor  25 Agustus 2016