Kamis, 21 Maret 2019

KENANGAN TENTANG GURU SMA N KENDAL





KENANGAN  TENTANG GURU SMA N KENDAL

Oleh : Mbang Win


Ingatan Ku tentang bapak dan ibu guru masih membekas. Secara singkat gambaran dari Bapak/Ibu guru adalah sebagai berikut :
Bapak  R. Soeprapto Atmodiredjo dipercaya sebagai Kepala Sekolah SMA N Kendal yang pertama  dari tahun 1961 sampai dengan tahun 1974. Jabatan Kepala Sekolah cukup lama (13 tahun) dibandingkan dengan jabatan kepala sekolah sekarang. Sebagai kepala sekolah Bapak  R. Soeprapto, tugas utamanya  adalah sebagai “penilik” kelas, mengecheck apakah setiap kelas sudah ada yang mengajar atau tidak ada gurunya (kosong). Jika kosong, beliau mengambil alih peranan guru, meski tidak mengajar pada mata pelajaran yang kosong, akan tetapi lebih pada memberi nasehat. Beliau hanya mengajar Bahasa Jerman, suatu mata pelajaran pilihan pada kelas 2 dan kelas 3. Ciri khas beliau adalah : kacamata, sepeda dan canklong (untuk merokok).
Bapak Rusmoyo BA selain sebagai guru, beliau menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah. Beliau mengajar Menggambar dan Kimia. (apa hubungan antara Menggambar dan Kimia?). Untuk pelajaran Kimia, beliau kurang pandai menerangkannya, sehingga siswa banyak yang tidak tahu. Mungkin latar belakang beliau bukan dari pendidikan kimia. Menggambar siswa jurusan IPA dengan Sosial atau Budaya rupanya berbeda. Untuk jurusan IPA menggambarnya menggunakan berbagai alat tulis : penggaris, kotak jangka, segitiga untuk menggambar berbagai motif (lingkaran, segitiga, melengkung, dsb) dengan menggunakan tinta hitam dan cat air.
Bapak Drs. Widagdo, mengajar  Fisika dan Mekanika. Cara mengajar beliau sangat menyenangkan dan mudah dipahami siswa. Hampir semua siswa sangat menyenangi beliu.  Sayang beliau meninggal dalam usia yang masih relatih muda dan belum menikah. Beliau meninggal setelah mengalami sakit yang cukup lama.
Bapak Drs. Sulasi, mengajar   Fisika dan Mekanika di kelas 3, sebagai  pengganti dari  Pak Widagdo. Pada awal mengajar beliau grogi mengajarnya, karena sering didebat sama siswa. Mungkin sebagai guru baru beliau belum siap  betul dalam mengajar. Pada saat ujian, Iskandar dapat memperoleh soal fisika dari Pak Sulasi. Entah bagaimana cara Iskandar dapat soal. Soal dikerjakan bersama, maka jangan heran  kelompok belajar Ku dapat nilai bagus untuk pelajaran Fisika dan Mekanika.
Bapak Subagyo, mengajar Aljabar Analit. Kalau mengajar beliau jarang membawa buku. Buku Ilmu Aldjabar Jilid I, II dan III  karangan CJ Alders,  beliau sudah hafal betul, sampai halaman halamannya. Ciri khas beliau, kalau habis menulis di papan tulis, tangannya dimasukkan dalam saku celananya. (ENTAH KENAPA YA…). Mengajarnya cukup jelas dan mudah dipahami siswa. Beliau tinggal di Semarang, kalau mengajar Semaran – Kendal pergi pulang pakai sepeda motor. Kala itu, jarak Semarang – Kendal rasanya jauh. (padahal jarak kan sama saja).
Bapak Hartoyo, mengajar Ilmu Ukur Sudut (Geniometri) dan  Ilmu Ukur Ruang (Streometri). Ciri khas beliau adalah begitu masuk kelas beliau pasti menanyakan : “Ada yang ditanyakan” (dengan suara sengau seperti bindeng)? Biasanya siswa akan menanyakan PR yang tidak dapat dikerjakan yang diberikan beliau. Ciri lainnya adalah soal ulangan dalam satu meja berbeda soalnya. Pada kertas jawaban ditulis ‘KIRI” dan “KANAN”. Tujuannya jelas supaya siswa yang satu meja tidak saling menyontek.
Bapak Kasiran, mengajar Geografi, orangnya cukup gagah, masih muda, berwajah kearab araban. Suka pakai baju kotak kotak lengan panjang. Kalau ngajar cukup jelas.
Bapak Suyono BA, mengajar Olah Raga kelas 1  dan Biologi atau Ilmu Hayat kelas 1 dan kelas 2. Untuk pelajaran biologi, apalagi yang menyangkut tubuh manusia, Aku kurang dapat memahami.
Bapak Sumardi, mengajar Biologi kelas 3. Beliau guru pindahan (entah dari mana). Kalau mengajar suaranya pelan, tetapi cukup jelas. Pada saat kelas 3, diwajibkan membuat “Karya Tulis”, banyak yang menjadi bimbingan beliau. Aku membuat Karya Tulis mengenai Balai Benih Ikan di Ungaran. Seingat Ku ada juga yang mengambil masalah ikan di Ungaran, tetapi Aku lupa, kalau tidak salah Sudirno dan Eddy Susilo. (SIAPA YANG INGAT MEMBUAT KARYA TULIS DI UNGARAN).
Bapak Subari BA, guru paling bisa ngajar apa saja. Paling tidak beliau mengajar Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Ilmu Bumi, Geografi dan Antropologi Budaya (?). Beliau dikenal “galak”, tetapi kalau ngajar beliau menerangkannya  sangat jelas.
Bapak Singgih BA, mengajar Kewargaan Negara. Kalau mengajar  suaranya keras sekali, berbicara sendiri, tanpa memperdulikan siswa.  Aku tidak tahu apakah siswanya mengerti atau tidak.  Nilai yang diberikan maksimal 8. Entah mengapa. Soal ulangannya selalu esei. Beliau juga merangkap Kepala Sekolah SMEA dan juga anggota DPRD Kabupaten Kendal.
Bapak Mochtomi BA, mengajar Tatabuku dan Hitung Dagang, Stenografi (pilihan). Tatabuku dan Hitung Dagang di berikan pada Jurusan Sosial. Cara mengajarnya Aku tidak tahu, mengingat di IPA tidak ada pelajaran tersebut. Pada pelajaran Stenografi  cara mengajarnya, beliau hanya mengenalkan  huruf huruf Stenografi dan cara penyambungan dan menyingkatnya. Selanjutnya, beliau mendikte suatu kalimat atau cerita dengan kecepatan tertentu, siswa menuliskan dan kemudian siswa diminta membacakan kembali. Hambali merupakan siswa yang ahli dalam stenografi. Bahkan dalam mencatat pelajaran lainnyapun Hambali menggunakan stenografi. Entah sekarang apakah masih dipakai atau tidak.
Bapak Irfan, mengajar Olah Raga dan  Bahasa Inggris. Dalam Olah Raga, Pak Irfan cenderung mengikuti kemauan siswa. Namanya siswa, olah raga yang disenangi olah raga permainan (Volley, Basket, Sepakbola). Pak Irfan juga mengajar Bahasa Inggris, namun kalau mengajar biasanya beliau hanya memberikan catatan. Menjadi guru sepertinya hanya menjadi pekerjaan sambilan. Pekerjaan utamanya adalah dagang tembakau.
Ibu Drs. Sularmi, mengajar Bahasa Inggris. Orang cantik, berkulit putih. Cara mengajarnya cukup bagus. Hanya saja karena Aku tidak berbakat dalam bahasa Inggris, maka nilai bahasa Inggris Ku hanya cukup saja. Muhtadi pandai dalam bahasa Inggris.
Bapak Mahyudi BA, Mengajar Sejarah Umum, Sejarah Indonesia, Sejarah Dunia. Cara mengajarnya kurang disukai sama siswa. Kebetulan Aku sendiri memang kurang menyukai pelajaran sejarah, pelajaran yang harus di hafal, apalagi menghafal tahun suatu peristiwa.
Bapak Kosim dan Nizar Kamil, Mengajar Agama. Kalau tidak salah Bapak Kosim mengajar di kelas 1 dan 2, sedangkan Bapak Nizar Kamil di kelas 3. Bapak Nizar Kamil  juga mengajar Bahasa Arab (mata pelajaran pilihan).
Ibu Soepantin dan Soepitun, Mengajar Bahasa Indonesia. Ibu Soepitun suaranya cukup keras dan kalau menerankan juga cukup jelas. Namun, pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang cukup sulit bagi Ku. (HALLO TEMAN TEMAN YANG MEMPUNYAI KENANGAN TERHADAP BAPAK DAN IBU SILAHKAN DICERITAKAN).

Rabu, 20 Maret 2019

CERITA INSPIRATIF : QODARAN




CERITA INSPIRATIF :  QODARAN
"Wah…pisangnya bagus-bagus Mbah…" kataku sembari berjongkok di depan perempuan sepuh yang berjualan di pinggir jalan depan pasar...
"Lha monggo, dipundut (dibeli)..." kata perempuan itu riang.
Sungguh sudah sangat sepuh, rautnya penuh kerut. Kulitnya hitam. Kurus badannya. Tapi suaranya cemengkling (masih nyaring), riang. Giginya terlihat masih utuh.
"Ini kepok kuning… bagus dikolak. Ini kepok putih… kalau digoreng sangat manis.. Lha kalau itu… pisang pista, kulit tipis… harum manis. Tapi jangan dibeli karena belum mateng.”
Aku hanya diam memperhatikan gerak tangannya yang cekatan, meskipun telah ndredheg (gemetar.)
"Sudah lama jualan, Mbah…?"
"Belum, ini ngejar rejeki buat lebaran."
Putranya berapa Mbah?"
"Katahunah (banyak) ..… pada glidik (kerja)…"
"Kok nggak istirahat saja to Mbah… siyam-siyam kok jualan"
"Lha nggih, ini karena siyam niku to, nggak boleh istirahat... Mumpung Gusti Allah paring (beri) sehat…"
Aku tercenung dengan jawaban perempuan sepuh itu. Kulihat tangannya mengelap  kening dan dahinya yang dlèwèran (bercucuran) keringat dengan selendang lusuhnya. Diantara para penjual “liar” dipinggir jalan depan pasar itu, perempuan sepuh ini satu diantaranya yang menggelar dagangan tanpa iyup iyup (peneduh). Padahal hari itu panas luar biasa.
"Kalau pulang jam berapa Mbah?"
"Jam tiga sudah pulang ..…, lha ada kewajiban nyiapkan wedang (minum) buat anak-anak TPA."
"Kok kewajiban, yang mewajibkan siapa Mbah ?"
"Nggih kula, (ya saya sendiri) …"
"Ooo…begitu…. Setiap hari, selama puasa?"
“Inggih… wong cuma  anak limapuluhan..."
"Wah panjenengan  (anda) hebat nggih Mbah…"
"Halah cuma wedang sama pegangan kecil-kecil. Yang penting bocah-bocah rajin ngaji…, mbah sudah seneng. Jangan bodoh kaya Mbah ini yang cuma bisa Fatihah."
Aku makin tercekat.  Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.
"Kok banyak banget... mau buat apa, mas?” Tanya si mbah heran.
Aku hanya tersenyum.
"Semua berapa Mbah?"
Perempuan sepuh itu menyebutukan nominal yang membuatku tercengang....
"Kok murah banget Mbah…"
"Mboten (ah enggak)… itu sudah pas, ini bukan pisang kulakan (dari beli), panen kebun sendiri..."
"Nggih…matur nuwun…" kataku sembari mengulurkan uang.
"Aduh… nggak ada kembalian , belum kepayon (laku)…"
"Saya tukar dulu Mbah…"
Aku sengaja meninggalkan perempuan sepuh itu. Pisang telah kuletakkan di mobil. Mesin mobil pun kunyalakan. Agak menjauh dari perempuan sepuh itu. Kumasukkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang masih baru, ke dalam amplop. Cukup dibagi satu satu untuk anak TPA , yang katanya berjumlah limapuluhan tadi. Penutup lem amplop kubuka lalu kurapatkan.
“Ini mbah, sudah saya tukar, sudah pas nggih..."
Perempuan sepuh itu menerima amplop masih dengan tangan dredheg gemetar. Tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.
Esoknya aku mampir lagi…tapi kosong. Berikutnya aku mampir lagi…kosong juga. Penasaran kutanyakan pada ibu pedangang sebelahnya.
"Mbahe kok nggak jualan Mbak?"
"Oh nggak, beliau … jualan kalau panen pisang aja... Sampeyan to yang kemarin ngasih amplop.
Walah Mbahe nangis ngguguk (tersedu-sedu) ..… jare bejo, (katanya beruntung) dan dapet qodaran."
Barangkali yang dimaksudkan adalah lailatul qodar. Malam yang konon lebih baik dari 1000 bulan. Para malaikat turun dari langit. Ke langit hati kita. Menyelesaikan segala urusan.
Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki, pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula...
Rejeki sesuai kapasitas kita.
Lantas siapakah yang mendapatkannya ??
Barangkali perempuan sepuh inilah yang mendapatkannya.
Bukan karena ia ahli ibadah...
Bukan pula karena I”tikafnya yang  kuat di masjid.
Tapi dialah pelaksana dari yang katanya “hanya” bisa fatihah itu.
Kesungguhan I”tikaf yang luar biasa.
Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa.
I”tikaf di masjid yang digelar dalam keluasan yang maha.
Bukan masjid yang sekedar bangunan ibadah.
Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan penganan bagi limpuluhan bocah selama puasa, sungguh bukan perkara mudah.
Hanya cinta tuluslah yang bisa.
Aku jadi teringat  pertanyaan teman, tentang pencapaian Lailatul Qadar.
Benarkah memang ia turun di 10 hari terakhir malam ganjil?
Maka …malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan...
Tak bisa dijujug dengan akhiran...
semua butuh proses…. karena karunia terindah butuh wadah.
Yang dibangun dengan mengais kebaikan, sebelum, selama dan sesudah Ramadhan.
Itulah sesungguhnya QODARAN
----------------  &&&&&  ---------------

Selasa, 19 Maret 2019

KADO KECIL MENYAMBUT HARI BHAKTI KEHUTANAN KE 36 SENTRA BUAH HUTAN , MENGAPA TIDAK?



KADO KECIL MENYAMBUT HARI BHAKTI KEHUTANAN KE 36
SENTRA BUAH HUTAN , MENGAPA TIDAK?
Bambang Winarto *) 
Indonesia diberkahi dengan hutan-hutan tropis terluas dan keanekaragaman hayati terbanya kedua di dunia setelah Brasil. Puluhan juta rakyat Indonesia secara langsung atau tidak langsung bergantung pada hutan-hutan ini untuk kehidupan mereka, entah itu mengumpulkan hasil hutan untuk kebutuhan sehari-hari atau bekerja di sektor pengolahan kayu. Hutan-hutan ini adalah rumah bagi banyak flora dan fauna yang tak tertandingi di negara dengan ukuran yang sebanding manapun. Sayangnya, hingga kini, hutan hanya dilihat kayunya saja. Tidak lebih.  Tahun 1970 sampai tahun 1995, lebih dari 2 dekade, Kehutanan mengalami jaman keemasan dengan  hasil hutan kayu dan  industri perkayuannya. Devisa yang dihasilkan menempati kedua setelah minyak bumi dan gas. Namun setelah itu, kinerja kehutanan terus menurun. Bahkan setelah jaman reformasi Kehutanan Indonesia bagaikan kapal yang karam dan puncaknya pada era Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Jokowi, Kementerian Kehutanan tidak berdiri sendiri tetapi digabung dengan Kementerian Lingkungan Hidup, menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK).
Sepertinya, sebagai negara yang mempunyai kekayaan mega diversity tidak ada apa-apanya dalam menunjang ekonomi negara sekarang ini. Kinerja Kementerian LHK dalam mengurus dan mengelola hutan, kurang atau malahan tidak ada terobosan, bekerja ala kadarnya, monoton yang dikenal dengan BAU (business as usual) tanpa mampu membuat terobosan positif dan konstruktif. Masyarakat ingin perubahan ke arah yang lebih baik. Bandingkan dengan kementerian lainnya, seperti: Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan penenggelaman kapal, Kementerian Keuangan dengan Pengampunan Pajak, Kementerian PUPR dengan pembangunan infrastutur.  Padahal Presiden Jokowi sendiri adalah alumni dari Fakultas Kehutanan. Ada apa gerangan......?
Untuk itu, pada bulan yang berbahagia ini, dimana tanggal 16 Maret merupakan HARI BHAKTI RIMBAWAN, hari berdirikan DEPARTEMEN KEHUTANAN tahun 1983, disampaikan sebuah kado kecil berupa artikel dengan tema SENTRA BUAH HUTAN kiranya dapat membuka cakrawala baru para rimbawan dalam mengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa buah hutan, untuk  meningkatkan manfaat dan nilai hutan serta meningkatkan koordinasi dan sinergisitas dengan kementerian lainnya.
BUAH SEBAGAI HASIL UTAMA.
Memang, dalam hal buah, Indonesia adalah Negara yang penuh ironi. Bagaimana tidak, toko swalayan dipenuhi berbagai buah asal Tiongkok (jeruk, apel), Thailand (durian, lengkeng), Brasil (pisang), Amerika (Apel). Jika buah asli disandingkan dengan buah impor,  lebih ironi lagi, kalah jauh, baik dari segi penampilan maupun harga. Aneh tapi nyata. Yang lebih mengerikan, buah impor sudah merambah ke pelosok pedesaan di seluruh Indonesia. Buah lokal sudah dalam  status “bahaya”. Ada 2 (dua) penyebab utama rendahnya hasil buah di Indonesia.  Pertama,   Indonesia tidak memiliki perkebunan buah skala perusahaan yang dikelola secara professional (yang hanya dapat dikelola pada kawasan hutan) dan yang kedua  kesalahan “mind set” rimbawan dalam memandang buah sebagai hasil hutan bukan kayu.
Dalam berbagai tulisan tentang buah, disebutkan bahwa Indonesia memilik tidak kurang dari 329 jenis buah  baik yang merupakan jenis asli maupun pendatang (introduksi) dapat ditemukan di Indonesia. Lebih dari tiga perempat jenis-jenis buah yang terdapat di kawasan Asia Tenggara ditemukan di Indonesia. Empat jenis komoditas buah telah ditetapkan sebagai “buah unggulan nasional”, yaitu : mangga, manggis, rambutan dan durian. Namun, keempat buah tersebut masih jauh dari mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri apalagi memenuhi permintaan luar negeri.
Rimbawan hanya mengenal dua hasil hutan, yaitu : hasil hutan yang berupa kayu dan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Khusus untuk HHBK, Permenhut 35/2007 telah mengatur secara rinci pengelompokan tumbuhan dan tanaman yang terdiri dari :  kelompok resin, kelompok minyak atsiri, kelompok minyak lemak, pati dan BUAH-BUAHAN, kelompok tannin, bahan pewarna dan getah, kelompok tumbuhan obat dan tanaman hias, kelompok palma dan bambu, alkaloid dan  kelompok lainnya. Jumlah tumbuhannya mencapai ratusan.  HHBK, khususnya kelompok jenis tumbuhan penghasil buah belum terpikirkan sama sekali. Rimbawan memandang  buah sebagai hasil sampingan yang secara ekonomis dianggap kurang penting. Di tambah lagi,mind set rimbawan memandang produksi dan pengembangan buah bukan merupakan urusannya. Memang pola pikir rimbawan sungguh aneh, HHBK yang diakui sebagai urusannya tetapi tidak pernah disentuh dalam pengembangannya. Jangankan dikembangkan di monitor saja tidak. Coba saja tanyakan berapa produksi HHBK, dapat dipastikan Kementerian LHK tidak dapat menjawabnya, paling-paling hanya produk rotan yang ada angkanya. Karena kesalahan dalam mind set nya, maka HHBK hanya boleh dipungut saja melalui Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (IPHHBK). Itupun hanya terbatas pada hasil hutan rotan saja. Aneh bukan?. Padahal, jika Kementerian LHK mengembangkan pohon buah hutan tidak ada yang salah. Kementerian Pertanian tentu akan menyambut dengan suka cita, karena secara otomatis produksi buah-buahan akan meningkat. Koordinasi dan sinkronasi dengan sendirinya akan terbentuk dalam mewujudkan peningkatan produksi hasil  hutan buah.
Berdasarkan Permenhut  P.35/Menhut-II/2007, komoditi HHBK buah yang menjadi urusan Kementerian LHK ada 36 jenis, yaitu  : aren, asam jawa, burahol,  cempedak, duku, durian, duwet, gandaria, jengkol, kecapi, kemang, kenari, kesemek, kesturi, kluwek, kluwih, kupa, lengkeng, makadamia, mangga hutan, manggis,  matoa, melinjo, mengkudu, menteng, nangka, pala, pala hutan,  petai, rambutan, saga pohon, sawo, sawo duren, sirsak, srikaya, sukun. Dari 36 jenis buah tersebut, 11 jenis diantaranya mempunyai potensi ekonomi untuk dikembangkan secara komersial :  durian, manggis, rambutan, mangga, duku, lengkeng, matoa, kenari, melinjo, sawo, dan aren.
Oleh para rimbawan, buah masih dianak tirikan, buah hanya boleh dipungut oleh masyarakat atau koperasi desa melalui (IPHHBK). Cara pandang yang kurang tepat, atau tepatnya cara pandang yang keliru. Perlu adanya perubahan cara berpikir. Buah yang dikembangkan dari POHON harus dipandang sebagai produk utama, sedangkan kayu nya sebagai produk sampingan. Hal ini hanya mungkin bila pengembangan buah-buahan di hutan dilakukan oleh investor atau perusahaan yang profesional, melalui Izin Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu – Buah Hutan (IUPHHBK-BH), seperti halnya izin yang diberikan pada Hutan Tanaman Industri (HTI). Lagi pula, untuk membangun satu unit sentra buah-buahan hanya memerlukan lahan hutan tidak lebih dari 1.000 hektar. Dengan luas yang hanya 1.000 hektar, produksi buah akan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan bahkan sekaligus menguasai pasar buah internasional. Bandingkan dengan HTI yang memerlukan lahan hutan minimal 13.000 hektar.  Dengan IUPHHBK-BH, memungkinkan pemanfaatan buah hutan dilakukan secara professional : penggunaan bibit unggul, peningkatan  kwalitasnya (rasa, ukuran, bentuk, warna, keseragaman) dan, kwantitasnya (produktivitas) serta penggunaan teknologi.
Sentra buah hutan  diyakini memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan komoditi kayu. Panen jauh lebih lebih cepat, dapat dilakukan setiap tahun selama masa produksi, menyerap tenaga kerja lebih banyak, meningkatkan pendapatan masyarakat, memungkinkan pengembangan industri buah dan setelah tanaman buah tidak produktif, kayunya dapat dimanfaatkan untuk keperluan kayu pertukangan atau lainnya.
LANGKAH KONKRIT MEWUJUDKAN SENTRA BUAH HUTAN
Dengan berubahnya sistem pengelolaan hutan, maka pemanfaatan hutan sepenuhnya menjadi tanggungjawab Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Sampai tahun 2017 , KPH yang sudah terbentuk sebanyak 120 unit. Sentra buah hutan   dapat dikembangkan pada KPH yang sudah terbentuk kelembagaanya lengkap dengan SDM nya. Sebagai tahap awal  buah yang dikembangkan sebanyak 11 komoditas (durian, manggis, rambutan, mangga, duku, lengkeng, matoa, kenari, melinjo, sawo, dan aren), maka hanya diperlukan lahan hutan seluas 11.000 hektar. Satu KPH cukup satu komoditas buah, sehingga nantinya akan dikenal KPH Durian, KPH Manggis, KPH Rambutan, dan seterusnya. Pengembangan buah hutan tidak mungkin dikembangkan sendiri oleh pemerintah atau pemerintah daerah, perlu investor yang sudah berpengalaman dalam mengembangan buah-buahan.
Sebagai langkah awal, Kementerian LKH perlu membuatn “pilot project”, dengan biaya dari APBN, dengan luasan sekitar 50 – 100 hektar yang berlokasi di KPH yang sudah terbentuk. Untuk melakukan “pilot project”, KPH harus “belajar” dari Kementerian Pertanian atau Dinas Pertanian setempat, bagamaina mengelola tanaman buah-buahan. Perlakukan tanaman hutan dengan tanaman buah tentu sangat berbeda. Yang jelas tanaman buah-buahan memerlukan perlakukan yang lebih rumit, sejak penaman, pemeliharaan sampai pasca panen.
Secara garis besar, untuk mewujudkan sentra buah hutan di KPH paling tidak memerlukan 5 langkah besar :  Pertama,  dikeluarkannya kebijakan dari Kementerian LHK bahwa buah dapat dimanfaatkan melalui IUPHHBK-BH di kawasan KPH.  Kedua, menjalin kerjasama dengan Kementerian Pertanian, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian dan Pemerintah Daerah untuk bersama-sama menyusun master plan sentra buah hutan. Ketiga , Kementerian LHK dan Kementerian Pertanian menyusun berbagai regulasi dan panduan budidaya buah hutan sebagai acuan bagi pengusaha buah hutan. Keempat, Pemerintah Daerah menyiapkan Perda tentang  kemitraan pembangunan sentra buah hutan antara pengusaha buah, koperasi dan  masyarakat setempat, dilanjutkan dengan mensosialisasikan kepada masyarakat. Kelima,  Kementerian LHK dan Kementerian Pertanian mempromosikan sentra buah hutan dengan mengundang para investor pengusaha buah. Langkah-langkah kecil yang bersifat operasional dapat dikembangkan lebih detail.

PENUTUP
Kementerian LHK harus lebih membuka diri terhadap pengembangan komoditi selain kayu di kawasan hutan sepanjang tidah merubah fungsi dan peranan hutan. Dengan menginisiasi pembangunan sentra buah hutan di KPH, Kementerian LHK telah menunjukkan komitmennya ikut berperan serta dalam mewujudkan kemandirian pangan, khususnya kemandirian buah lokal dan sekaligus meningkatkan  ekspor buah. Inisiasi dari Kementerian LHK hanya akan terwujud apabila Kementerian LHK, Kementerian Pertanian dan para pemangku kepentingan lainnya saling bersinergisitas dalam memberikan dukungan,  dan kemudahan dalam berbagai hal.  Sudah bukan jamanya lagi ego sektoral dipertahankan. Hutan harus dapat memberikan manfaat kepada masyarakat lokal, pemerintah daerah dan pemerintah pada umumnya.
Semoga kado kecil ini dapat membuka cakrawala baru bagi rimbawan. Jika rimbawan dapat mewujudkan empat jenis komoditas “buah unggulan nasional”, yaitu : mangga, manggis, rambutan dan durian, dalam waktu lima tahun ke depan sungguh merupakan prestasi yang patut dibanggakan. Apalagi dapat mengembangkan 11 jenis buah (durian, manggis, rambutan, mangga, duku, lengkeng, matoa, kenari, melinjo, sawo, dan aren), tentu merupakan prestasi yang luar biasa. Siapa tahu suatu saat nanti Satu KPH dapat mewujudkan satu sentra  buah hutan. Namun, apakah SENTRA BUAH HUTAN dapat diwujudkan? Jawabannya bergantung pada para pengambil kebijakan di Kementerian LHK. Tapi harus diingat bahwa :  Forests not just are timbers forests are fruits as well”.
====================
Bambang Winarto *) : Konsultan paruh waktu Yayasan Sarana Wana Jaya, Pensiunan Kehutanan, Mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gorontalo, Penyusun Kamus Rimbawan dan Kamus Konservasi.