Senin, 25 Maret 2019

mBang Win







Tentang mBang Win
Mbang Win, nama lengkapnya Bambang Winarto, dilahirkan di Magelang, 15 Juni 1954, dari ayah Wirjoatmodjo dan ibu Samilah.
Pendidikan tertinggi Magister Manajemen Agribisnis UGM (1992-1993). Namun Sarjana Kehutanan dari IPB (1974-1978) lebih mewarnai keahliannya. Mbang Win sempat mengikuti program Diploma Rural Survey di ITC Enschede The Neterlands (1989- 1990).
Masa remaja merupakan   masa yang paling menyenangkan ketika bersekolah di SMA N Kendal (1971-1973). Kala itu, SMA N Kendal merupakan satu satunya SMA yang ada di Kendal. Banyak kenangan yang tidak terlupakan :  teman teman, para guru, sekolahannya, dan sebagainya.
Lulus dari Fakultas Kehutanan IPB (1978), bekerja sebagai PNS. Karier pertama sebagai pelatih di Balai Latihan Kehutanan dan guru di Sekolah Kehutanan Menengah Atas Samarinda. Sebagai PNS kariernya berpindah dari satu instansi ke instansi lain dalam lingkup Kementerian Kehutanan, dari satu daerah ke daerah lain. Karier tertinggi sebagai Kepala Kanwil Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara. Setelah purna tugas, tahun 2010-2012, diperbantukan pada proyek  :  Enhancing Forest Carbon Stocks to Reduce Emission from Deforestation and Degradation through Sustainable Forest Management  Initiatives in Indonesia”, kerjasama dengan ITTO sebagai Expert.
Mbang Win aktif sebagai  Penulis, khususnya tentang kamus. Kamus Kehutanan merupakan karya yang fenomenal dan telah dijadikan buku pegangan Pegawai Kehutanan. Artikel  tentang kehutanan banyak dimuat di tabloid Agroindonesia.
Menikah dengan Siti Aminah, guru taman kanak kanak di Kampus Dramaga, dikaruniahi satu putera dan satu puteri.

Minggu, 24 Maret 2019

DOSEN DAN MAHASISWA




DOSEN DAN MAHASISWA

Seorang dosen tengah berjalan santai bersama seorang  mahasiswa di taman kampus, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.
Sang mahasiswa melihat kepada dosennya dan berkata :
Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan. Nanti ketika dia datang, kita lihat bagaimana dia kaget serta cemas karena kehilangan sepatunya..."
Dosen itu menjawab:
"Mahasiswaku, tidak pantas kita menghibur diri dgn mengorbankan org miskin. Kamu kan seorang yang kaya dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya...
“Sekarang cobalah kamu masukkan beberapa  lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian saksikan bagaimana respons dari tukang kebun miskin itu?"
Sang mahasiswa sangat takjub dengan usulan dosennya. Dia langsung  memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama dosennya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun itu. Tak berapa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya, dia menuju ke tempat dia meninggalkan sepatunya.
Ketika ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.
Saat ia keluarkan, ternyata, uang...  Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang...
Dia memandangi uang itu berulang-ulang seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya. Iapun memutar pandangannya ke segala penjuru namun ia tidak melihat seorang pun.
Sambil menggenggam uang itu lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap :
“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah, Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang... Wahai Yang Maha Tahu, istriku sedang sakit dan anak-anakku  kelaparan, mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan...”
Dengan kepolosannya dia terus menangis terharu sambil memandangi ke langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah.
Sang mahasiswa sangat terharu atas pemandangan yang dilihatnya dari balik persembunyian itu. Air matanya berlinang tanpa dapat ia bendung.
Sang dosen yang bijak berkata kepada mahasiswanya :
“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yg lebih dari pada kamu melakukan ide pertama untuk menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”
Sang mahasiswa menjawab :
"Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku."
Sekarang aku paham makna kalimat :
“Ketika kamu memberi, kamu akan memperoleh kebahagiaan yg lebih banyak daripada ketika kamu diberi”.
Sang dosen melanjutkan nasehatnya, "Ketahuilah bahwa bentuk pemberian itu bermacam-macam:
1.       Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam,...adalah suatu pemberian.
2.       Mendoakan teman dan saudaramu di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) itu adalah juga pemberian.
3.       Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk, juga suatu pemberian.
4.       Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita di belakangnya adalah pemberian juga.
Ini semua adalah "pemberian". Marilah kita saling "memberi & berbuat baik", niscaya _hidup kita akan menjadi lebih indah.


SMA NEGERI KENDAL




SMA NEGERI KENDAL
Ketika berhenti di depan Gedung SMA N Kendal, Aku perhatikan Gedung SMA N KENDAL, ingatan ku menerawang ke tahun 1971 – 1973, dimana Aku bersama teman teman Ku menempuh pendididkan di sini. Banyak kenangan indah yang sampai sekarang masih tersimpan dalam ingatan Ku.
Gedung SMA N Kendal,  berada di jalan Pemuda Nomor 58 yang merupakan  salah satu dari dua jalan utama yang ada di Kendal. Ya…, Kendal hanya mempunyai dua jalan besar, satunya adalah jalan Jalan Raya Kendal. SMA Kendal adalah SMA BERSTATUS NEGERI PERTAMA sekaligus SMA pertama di Kabupaten Kendal. Awalnya, tahun 1961,  SMA Negeri 1 Semarang, membuka sekolah cabang atau filial di Kabupaten Kendal. Gedung SMA N KENDAL  pada mulanya menempati Gedung Bhakti (sekarang menjadi Museum Juang 1945 Kabupaten Kendal) yang beralamat di Jl. Notomudigdo, Kecamatan Kota Kendal, atau berada di sebelah Timur Kantor Bupati Kendal. Namun, karena gedung tersebut kurang memenuhi syarat, pada 2 Oktober 1961 dipindahkan ke gedung bekas asrama SGB (Student Government Board ), Kendal di Jl. Pemuda No. 58.  Atas kerja keras Panitia Pendiri, pada 1 Agustus 1961, SMA Negeri  Kendal mendapat status negeri dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Setelah mendapat status negeri, SMA  Kendal melepaskan diri dari status sekolah cabang SMA Negeri 1 Semarang pada 5 Oktober 1961. Hingga saat ini, tanggal 5 Oktober diperingati sebagai Hari Ulang Tahun SMA Negeri Kendal.
Gedung SMA N Kendal merupakan bangunan tua yang lumayan besar. Bagian depan merupakan halaman yang digunakan untuk upacara. Pada halaman bagian depan juga terdapat lapangan volley ball sederhana, berupa tiang volley dari bambu yang dapat dicabut dengan pembatas dari batu bata. Sebelah kanan dari bangunan terdapat halaman yang cukup luas yang dipergunakan untuk olaga raga. Disitu juga dibuat lapangan basket yang sederhana pula, ada pembatas lapangan sesuai ukuran lapangan basket dan dua menara untuk ring nya.  Lapangannya masih berupa tanah yang di tumbuhi dengan rumput yang tidak rata. Jadi tidak heran kalau lagi “dribbling” bolanya lari kemana-mana. Bagian belakang dari gedung utama dibuat beberapa ruang kelas yang bersambungan dengan gedung utama. Di depannya, terdapat tempat parkir sepeda. Pada saat itu kendaraan yang diperbolehkan untuk sekolah hanya sepeda. Di bagian belakang sekolahan terdapat kantin yang dikelola oleh Jack Mun dan WC. (lihat bagian Jack Mun ). Pada halaman bagian belakang terdapat cukup banyak tanaman kelapa dan tanaman pisang.
Gedung SMA N Kendal disekat dalam beberapa ruangan, paling tidak terdapat  14 ruangan, yaitu : ruangan kepala sekolah, ruangan guru, ruang perpustakaan, ruangan tata usaha, dan ruang kelas. Untuk ruang kelas terdapat 10 ruangan yang terdiri dari :  4 ruang kelas 1 (I/1, I/2,I/3 dan I/4), 3 ruang kelas 2 (Kelas Budaya, kelas Sosial dan Kelas IPA) dan 3 ruang kelas 3 (Kelas Budaya, Kelas Sosial dan Kelas IPA). Ruang kelas hanya merupakan sekatan papan yang tingginya hanya ¾ dari tinggi langit langit. Luas ruangannya bergantung pada jumlah siswa. Jadi kalau ada jam kosong di ruang sebelah, pasti ributnya kedengaran.
Ruang Tata Usaha masih berada di bagian belakang Gedung Utama. Ruangannya tidak terlalu luas. Di bagian depan ruang Tata Usaha bergantung lonceng yang akan dipukul sama Pak Jayus setiap pergantian mata pelajaran atau waktu istirahat. Kepala Tata Usaha saat itu adalah Ibu HERI, yang tidak lain adalah Ibu nya Edy Soesilo. Ruang Tata Usaha berhadapan dengan Ruang I/3. Jika perantian jam pelajaran atau waktu istirahat, lonceng yang diantung di depan TU dipukul sama Pak JAYUS. Teng..., teng..., teng... Suaranya mengema yang dapat di dengar seluruh kelas.
SMA N Kendal mempunyai perpustakaan walau  sangat sederhana, berupa ruangan yang tidak terlalu besar di dalam gedung SMA. Buku yang tersedia sangat terbatas. Kebanyakan berupa buku buku sastra, seperti :  Sitti Nurbaya karya Marah Rusli ; Salah Asuhan karya Abdoel Moeis; Lajar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA); Belenggu karya Armijn Pane; Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma karya Idrus . Aku masih ingat semasa kelas 1, beberapa buku sastra dijadikan buku wajib untuk di baca. Perpustakaan,  memang sepi dari siswa. Jarang  siswa masuk perpustakaan, kecuali dapat tugas dari bapak/ibu guru.  Karena terbatasnya buku yang ada di perpustakaan, maka untuk memenuhi buku pegangan, Aku terpaksa membeli buku bekas di Pasar Johar Semarang. Buku bekas tidak berarti bukunya kucel, bukunya masih bagus dengan harga yang miring. Beberapa buku pegangan yang masih Aku ingat adalah : Ilmu Aldjabar Jilid I, II dan III  (CJ Alders ); Ilmu Ukur Ruang (Drs. Rawuh) ; Kimia (Schermerhorn); Ilmu Ukur Segitiga (C.J Alders).
Terdapat 3 (tiga) jurusan di SMA Kendal, yaitu IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), Sosial dan Budaya. Pemilihan ditentukan setelah kenaikan kelas 1. Pada dasarnya pemilihan jurusan ditentukan oleh siswa, namun pada masing-masing jurusan ada persyaratannya. Jurusan IPA misalnya, pada saat kenaikan tidak boleh memiliki angka merah pada pelajaran  matematika, fisika, kimia, dan biologi. Har Krismono (Momong), rela mengulang di kelas satu karena cita-citanya masuk AKABRI. (dan ternyata yang bersangkutan berhasil masuk AKABRI dan sukses di karier militernya). Bagi Ku memilih IPA alasannya sangat sederhana, dapat memilih hampir semua jurusan di Perguruan Tinggi.
Sayang gambar atau foto gedung SMA N Kendal tahun 70 an dicari di internet tidak ada.


Sabtu, 23 Maret 2019

FOTO FOTO REUNI SMA N KENDAL



FOTO FOTO REUNI SMA N KENDAL 















MENGINGAT TEMAN TEMAN KU




MENGINGAT TEMAN TEMAN KU
Setelah reuni di Tirto Arum, malamnya Aku ngobrol dengan Yulianto, tentang berbagai hal. Salah satu diantaranya adalah tentang SMA Negeri 1 Kendal, karena esoknya, Senin, tanggal 8 September 2014, Aku bersama Yuliyanto akan melihat-lihat SMA Negeri 1 Kendal. Ya…., hanya Yulianto yang selalu menemaniku jika Aku ke Kendal.
Yulianto adalah teman Ku sejak di SD, SMP dan SMA. Makanya Yulianto sempat “marah”, ketika ke Bogor  26 Juni 2011 (saat reuni di Jakarta – Bogor 25-26 Juni 2011), Aku tidak mengenalinya. “Win, Aku sopo?”, kata Yuliyanto. Aku coba mengingat-ingat. Tapi Aku benar-benar lupa. “Win, Kita pernah sama-sama di SD, SMP dan SMA”, kata Yuliyanto menambahkan. Tapi yang namanya lupa, ya..., lupa. Maklum lebih dari 37 tahun tidak ketemu. “Win, Aku, Yuliyanto.” Katanya. Sungguh Aku tidak mengenalinya. Dulu, semasa sekolah SD, SMP dan SMA, Yuliyanto kecil, dan pendek. Sekarang menjadi tinggi. Entah apa resepnya.
Senin pagi, sekitar jam 08.30, Yuliyanto sudah berada di rumah adik Ku yang berada di Jalan Soekarno - Hatta, depan pasar Kendal. Dulu rumah Adik Ku dikenal sebagai Apotik Kendal. Ya…, kalau ke Kendal, Aku  selalu menginap di rumah adik Ku. Setelah ngobrol sebentar, Aku di ajak Yuliyanto untuk melihat kota Kendal. “ Win, kembali kita keliling kota Kendal, kali ini  coba ingat teman kita yang berada di kota Kendal.” Kata Yuliyanto. Dengan mengenderai mobil Suzuki Feroza, Aku dan  Yuliyanto keliling Kota Kendal.  Jalan Soekarno – Hatta telah diberlakukan satu arah. Semua kendaraan arahnya menuju ke Timur (Semarang).  Dulu namanya Jalan Raya, kendaraan kearah Timur atau kearah Barat melalui Jalan Raya.
Di depan rumah Adik Ku, Aku masih ingat dulu ada Kantor Penerangan, di belakangnya PUDJI ASTONO tinggal bersama keluarganya. Kendaraan melaju perlahan dengan kecepatan sekitar 10-15 Km/jam. Di sebelah pasar  Kendal, tinggal SYAMSUL. Sampai di perempatan Masjid Kendal, kalau ke kiri (Utara) ke arah Bandengan, arah menuju rumah TEDJO RUMEKSO (TEDJO),  SITI NURUL QOMARIAH (NURUL) di sekitarnya terdapat tempat tinggal WALUYO UTOMO (YOYOK, almarhum) dan FAJAR HARIADI (FAJAR, Almarhum). Kalau terus ke arah Bandengan  akan ketemu rumah SOEPIYATI (PIYATI).
Setelah melewati SMP 1, ada jalan belok kiri menuju Rumah Sakit Kendal. Ke arah jalan tersebut terdapat rumahnya KOESYONO dan JOKO WAHYONO (JOKOWAH, almarhun). Kendaraan terus berjalan dengan pelahan, tak berapa lama ketemu rumah EKO RAHONO (EKO) , yang bertempat tinggal di belakang Kantor Pos. Di depan Kantor Pos terdapat  Stasiun Pemberhentian Kereta Api. Ya..., dulu trasportasi utama kalau ke Semarang naik kereta api. Tidak sampai 30 meter ketemu perempatan kecil, kalau belok kiri menuju Desa Karangsari, tempat tinggalnya MOCH ICHSAN (ICHSAN). Selanjutnya ketemu bekas Kecamatan Kota Kendal , rumahnya UMI TYASTUTI (TUTI), di depan Kecamatan, sekitar 15 meter dapat dijumpai rumah EDITA KIRANA (KIRANA) dan di sebelahnya adalah rumah ENDANG NURSILOWATI (NUNUK).
Sampai di Polres Kota Kendal, mobil belok kanan dan di sebelah kiri  akan ketemu daerah Sebatang tempat tinggalnya MUHAMMAD SOUM (MOCHSUOM). Mobil terus berjalan perlahan, kembali ketemu perempatan, belok kiri akan dijumpai rumah : YULIYANTO (YULI), DJOKO PRAMONO (PRAMONO), BUDI YUWONO (BUDI) dan YUNIATI (YUNI). Kalau terus saja akan sampai ke Kedung Pengilon. Kendaraan terus meluncur dengan pelan, bekas SMA N KENDAL di lewati, dan tak lama akan ketemu rumah KANTJAHWONO (NONOK, Almarhum). Sampai di simpang tiga, kembali Yuliyanto bercerita. “Win kalau belok kanan akan ketemu Kantor Perhutani, masih ingat ?” Kata Yuliyanto. “Tentu saja ingat.” Jawab Ku. Bagaimana Aku bisa lupa tentang Perhutani. Di ujung Kantor Perhutani adalah rumahnya HARY TRI HERMAWAN, tepatnya rumah Dinas Ajun KKPH Perhutani, yang saat itu dijabat Om nya Hary. Di situ,  Aku bersama Tedjo, Iskandar (almarhum), Eddy Sus dan  Dirno belajar bersama.
Kendaraan belok kekiri menuju arah Jakarta melaju dengan perlahan, tidak berapa lama, kembali Yuliyanto berkata. “Win disebelah kanan stasiun Kereta Api Kendal. Sekarang sudah tidak beroperasi. “Ada teman kita, siapa Win?” Tanya Yuliyanto. Aku perhatikan sepintas stasiunnya. Kereta Api nya sudah tidak ada. Ya..., betul, ada teman Ku dari SMP, namanya HERRY SUSILO, panggilnya HERRY SEPUR, karena orang tuanya menjadi Kepala Stasiun Kereta Api Kendal. Entah dimana keberadannya sekarang. Dan tidak berapa lama kembali Yuliyanto menunjuk rumah di sebelah kanan jalan. “Masih ingat Win, itu rumah siapa?” Tanyanya. Ya…., ingatkan Ku menerawang kembali ke tahun 1971-1973. Rumah itu adalah rumahnya ISKANDAR (almarhum), teman bermain, teman belajar bersama. Orangnya gagah, berwajah ke arab araban, pandai berbahasa Arab. Di dekat rumah ISKANDAR dijumpai rumah CHUSNUN, dan GUFRON dan setelah melewati SMA N 1 KENDAL akan sampai di Kecamatan Patebon, yang merupakan tempat tinggal HARYUTI.
Aku juga masih ingat Teman ku yang bertempat tinggal di “dalam” kota Kendal yaitu : EDY PRAPTO TRENGGONO (EDY PRAPTO), EDDY SUSILO (EDY SUS), SUHARTO, BENI ASWIN, MELANI, QOMARIAH (Almarhum) dan ZAINAL. Suharto, Beni Aswin,  Heri Sepur dan  Soepiyati, sampai sekarang tidak terdetekti keberadaannya.


JACK MUN




JACK MUN


Siapa yang tidak kenal dengan JACK MUN ? Siswa SMA N Kendal pasti mengenalnya. Obrolan tentang JACK MUN  dengan Yuliyanto berlangsung ketika Aku dan Yuliyanto bermain ke SMA N 1 Kendal. Ketika itu Aku memberikan sumbangan KAMUS KONSERVASI ke Perpustakaan SMA N 1 Kendal. Setelah melihat perpustakaan sebentar, Aku berniat mengajak Yuliyanto ke kantin SMA N 1.
 “Yul, kita ke kantin sebentar ya….” Kata Ku. Memang waktu sudah menunjukkan pukul 10.30. Saatnya untuk rehat sambil menikmati kudapan di kantin. Lokasi kantin cukup strategis dalam arti berada di bagian tengah sekolahan. Kantinnya lumayan besar, cukup bersih, cukup banyak jenis makanan yang ditawarkan. Kantin di kelola oleh sekolahan kerjasama dengan beberapa pedagang makanan dan minuman. Ada makanan berat : bakso, soto, gado gado, nasi goring dan  ada pula makanan ringan : pisang goreng, kacang bawang, donut, tempe goreng, singkong goreng, dsb. Minumannya : Es teh,  air mineral, kopi, susu, juice buah, es campur. Pokoknya makanan dan minumannya lengkap.
 “Ayo Yul, pesan apa?” Tanya Ku. Yuliyanto pesan bakso sapi dan minuan es teh, sedangkan Aku pesan gado gado tidak pakai cabai dengan minuman juice tomat campur wortel.
Enak juga makanan di Kantin. Bersih dan murah. Aku jadi ingat dengan kantin nya Jack Mun , lokasinya di bagian belakang sekolahan dekat dengan  WC. Jadi tidak heran kalau dari kantin masih tercium bau pesing. Kondisinya tidak megitu menggembirakan, berada di sudut bagian belakang sekolah, dengan lampu remang-remang 15 watt, lantainya masih berupa tanah. Jika  waktu istirahat tiba, kantin dipenuhi siswa, berebut mencari tempat duduk dan sekaligus berebut makanan yang disediakan : endog geluduk, nasi bungkus, ketan, pisang goreng, kacang bawang, singkong goreng, minumannya teh manis, dsb. Cukup banyak siswa yang nakal. Makan 2 (dua), bilang satu, atau bahkan tidak bayar sama sekali.  (APA LAGI YA… MAKANANNYA, SIAPA YANG MAKAN TIDAK BAYAR, SIAPA YANG MASIH PUNYA UTANG). Dengan kondisi yang demikian, banyak teman-teman yang lari ke kantin sebelah, kantin STM. Menurut beberapa teman, di kantin STM ada makanan yang cukup enak. (SIAPA SAJA YA… SERING MAKAN DI KANTIN STM).
Kalau mengingat kantinnya Jack Mun, Aku jadi tersenyum sendiri. Jack Mun  apakah engkau sudah meng ikhlaskan makanan yang  tidak dibayar oleh para siswa nya? Kalau belum bisa gawat. Konon hutang harus di bayar, kalau tidak ya…., tidak bisa masuk surga. Aku lupa apakah masih mempunyai hutang dengan Jack Mun  atau tidak.
Enak juga makanan di kantin SMA N 1 KENDAL. Sambil makan Aku dan Yulijato ngobrol tentang SMA N 1 KENDAL. Sedang asyik asyiknya ngobrol, berdatangan siswa siswa nya ke kantin. Waktu istirahat rupanya. Aku perhatikan para siswa, yang laki-laki, gagah gagah, yang perempuan cantik cantik. Mengingatkan Ku masa SMA dulu.
Siapa yang tidak kenal dengan JACK MUN ? Siswa SMA N Kendal pasti mengenalnya. Obrolan tentang JACK MUN  dengan Yuliyanto berlangsung ketika Aku dan Yuliyanto bermain ke SMA N 1 Kendal. Ketika itu Aku memberikan sumbangan KAMUS KONSERVASI ke Perpustakaan SMA N 1 Kendal. Setelah melihat perpustakaan sebentar, Aku berniat mengajak Yuliyanto ke kantin SMA N 1.

 “Yul, kita ke kantin sebentar ya….” Kata Ku. Memang waktu sudah menunjukkan pukul 10.30. Saatnya untuk rehat sambil menikmati kudapan di kantin. Lokasi kantin cukup strategis dalam arti berada di bagian tengah sekolahan. Kantinnya lumayan besar, cukup bersih, cukup banyak jenis makanan yang ditawarkan. Kantin di kelola oleh sekolahan kerjasama dengan beberapa pedagang makanan dan minuman. Ada makanan berat : bakso, soto, gado gado, nasi goring dan  ada pula makanan ringan : pisang goreng, kacang bawang, donut, tempe goreng, singkong goreng, dsb. Minumannya : Es teh,  air mineral, kopi, susu, juice buah, es campur. Pokoknya makanan dan minumannya lengkap.
 “Ayo Yul, pesan apa?” Tanya Ku. Yuliyanto pesan bakso sapi dan minuan es teh, sedangkan Aku pesan gado gado tidak pakai cabai dengan minuman juice tomat campur wortel.
Enak juga makanan di Kantin. Bersih dan murah. Aku jadi ingat dengan kantin nya Jack Mun , lokasinya di bagian belakang sekolahan dekat dengan  WC. Jadi tidak heran kalau dari kantin masih tercium bau pesing. Kondisinya tidak megitu menggembirakan, berada di sudut bagian belakang sekolah, dengan lampu remang-remang 15 watt, lantainya masih berupa tanah. Jika  waktu istirahat tiba, kantin dipenuhi siswa, berebut mencari tempat duduk dan sekaligus berebut makanan yang disediakan : endog geluduk, nasi bungkus, ketan, pisang goreng, kacang bawang, singkong goreng, minumannya teh manis, dsb. Cukup banyak siswa yang nakal. Makan 2 (dua), bilang satu, atau bahkan tidak bayar sama sekali.  (APA LAGI YA… MAKANANNYA, SIAPA YANG MAKAN TIDAK BAYAR, SIAPA YANG MASIH PUNYA UTANG). Dengan kondisi yang demikian, banyak teman-teman yang lari ke kantin sebelah, kantin STM. Menurut beberapa teman, di kantin STM ada makanan yang cukup enak. (SIAPA SAJA YA… SERING MAKAN DI KANTIN STM).
Kalau mengingat kantinnya Jack Mun, Aku jadi tersenyum sendiri. Jack Mun  apakah engkau sudah meng ikhlaskan makanan yang  tidak dibayar oleh para siswa nya? Kalau belum bisa gawat. Konon hutang harus di bayar, kalau tidak ya…., tidak bisa masuk surga. Aku lupa apakah masih mempunyai hutang dengan Jack Mun  atau tidak.
Enak juga makanan di kantin SMA N 1 KENDAL. Sambil makan Aku dan Yulijato ngobrol tentang SMA N 1 KENDAL. Sedang asyik asyiknya ngobrol, berdatangan siswa siswa nya ke kantin. Waktu istirahat rupanya. Aku perhatikan para siswa, yang laki-laki, gagah gagah, yang perempuan cantik cantik. Mengingatkan Ku masa SMA dulu.


Jumat, 22 Maret 2019

PEMANENAN SARJANA KEHUTANAN




PEMANENAN SARJANA KEHUTANAN
Bambang Winarto *)


Melalui WA Ketua Angkatan dan Komda,  Saya menerima foto tentang Pemanenan Sarjana Kehutanan, yang dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2019. Pada spanduk latar tertulis “PEMANENAN SARJANA DAN PASCASARJANA TAHAP V TAHUN AKADEMIK 2018/2019”. Acara ini dilaksanakan oleh Fakultas Kehutanan IPB, HAE-IPB dan Forest Digest. Suatu acara bagus yang patut di lestarikan. Inti dari acara Pemanenan Sarjana Kehutanan adalah penyerahan Sarjana Kehutanan dari Dekan Fakultas Kehutanan kepada Ketua Himpunan Alumni Kehutanan.
Melalui tulisan singkat ini, Saya BERIMAJINASI bagaimana  acara tersebut dilaksanakan. Karena sifatnya imajinasi tentu saja berbeda dengan kenyataannya.





Entah sejak kapan istilah PEMANENAN digunakan di kehutanan. Memang tidak ada yang salah, hanya saja bagi “OLD FORESTERS”, istilah tersebut agak aneh di telinga. Istilah pemanenan juga digunakan  di hutan alam, kalau dulu dikenal dengan istilah eksploitasi hutan. Mungkin istilah eksploitasi hutan dianggap tidak bersahabat, karena mengandung konotasi negatif. Hutan di eksploitasi sama saja dengan hutan di rusak. Kira kira begitulah, pemikirannya. Kalau pada  Hutan Tanaman Industri, istilah pemanenan bisa dipahami, karena para rimbawan melakukan penanaman terlebih dahulu, baru memanen. Kalau di hutan alam, kapan menanamnya? Rupanya istilah pemanenan juga digunakan saat mahasiswa kehutanan menjadi sarjana kehutanan. Kalau yang ini masih dapat diterima, saat mahasiswa masuk Fakultas Kehutanan, saat itulah Penanaman Mahasiswa Kehutanan dan hasilnya Pemanenan Sarjana Kehutanan. Apakah istilah Pemanenan Sarjana berlaku di IPB secara keseluruhan  atau hanya berlaku di Fahutan saja, Saya kurang tahu. Mungkin Bapak Dekan Fahutan bisa menjelaskan.
Setiap tahun Fahutan memanen Sarjana Kehutanan sekitar 400 orang dari 4 (empat)  jurusan : Manajemen Hutan, Silvikutur, Teknologi Hasil Hutan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekowisata. Masing-masing jurusan sekitar 100 orang. Suatu jumlah yang besar. Bandingkan dengan Fahutan Angkatan 11 (masuk tahun 1974), mahasiswanya hanya 28 orang. Mahasiswa yang masuk IPB pada tahun tersebut hanya sekitar 260 orang sajadan yang memperoleh gelar sarjana diperkirakan hanya 50% saja, 50% nya DO.
Dalam benak Saya terbayang kebahagiaan para Sarjana Kehutanan (baru) yang telah menyelesaikan studinya di Fahutan. Acara ini merupakan kebahagiaan kedua setelah wisuda sarjana kehutanan.
Dalam imajinasi Saya, acara Pemanenan Sarjana Kehutanan adalah sebagai berikut :
1.    Pengantar dari pembawa acara;
2.    Pembacaan doa;
3.    Menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan menyanyikan lagu Mars Rimbawan;
4.    Penyerahan KARTU MAHASISWA FAHUTAN (secara simbolik) dari wakil mahasiswa kepada Dekan Fahutan;
5.    Sambutan Dekan Fahutan;
6.    Penyerahan Sarjana Kehutanan (baru) dari Dekan Fahutan kepada Ketum HA-E IPB;
7.    Penyerahan KARTU HIMPUNAN ALUMNI KEHUTANAN dan daftar kelembagaan /organisasi (secara simbolik) dari Ketum HA-E IPB kepada Sarjana Kehutanan (baru);
8.    Sambutan Ketum HA-E IPB;
9.    Ramah tamah dan foto bersama.
Dari acara di atas, Saya hanya akan mengupas beberapa hal saja:
Penyerahan KARTU MAHASISWA FAHUTAN (secara simbolik) kepada Dekan Fahutan. Menurut Saya acara ini perlu dilakukan untuk mengingatkan bahwa mereka BUKAN lagi MAHASISWA FAHUTAN. Jika kartu mahasiswanya sudah diserahkan pada saat melengkapi acara wisuda, tidak ada salahnya tetap diacarakan. (apakah ada acara ini?)
Sambutan Dekan Fahutan, yang point point nya adalah sebagai berikut;
Ø Bapak Dekan Fahutan memberikan sambutan dengan penuh suka cita. Fahutan dengan bangga telah berhasil mendidik Mahasiswa Fahutan menjadi Sarjana Kehutanan yang siap bekerja dimana pun di seluruh Indonesia. Juga ditekankan bahwa mereka sudah bukan MAHASISWA LAGI. selanjutnya meminta KARTU MAHASISWA FAHUTAN sebagai bukti bahwa yang bersangkutan TIDAK LAGI sebagai mahasiswa kehutanan.
Ø Bapak Dekan Fahutan menyerahkan Sarjana Kehutanan (baru) kepada Ketua Himpunan Alumni Kehutanan IPB dan  berpesan kepada Sarjana Kehutanan (baru), agar mendengarkan apa yang disampaikan oleh Ketum Himpunan Alumni Kehutanan.
Ø Bapak Dekan berharap Himpunan Alumni Kehutanan IPB dapat mengarahkan, membina, membimbing dan memonitornya setiap saat serta berharap memberikan informasi lowongan pekerjaan bagi Sarjana Kehutanan (baru).

Sambutan Ketum HA-E  IPB, yang point point nya adalah sebagai berikut;

Ø  
Ø Bapak Ketum HA-E IPB mengucapkan selamat kepada  Sarjana Kehutanan (baru) atas keberhasilannya menempuh pendidikan di Fahutan. Sejak wisuda Sarjana Kehutanan, Saudara secara resmi telah syah menggunakan gelar sarjana kehutanan.
Ø Mulai saat ini, saudara telah menjadi warga HIMPUNAN ALUMNI KEHUTANAN, suatu dunia yang sangat berbeda dengan dunia mahasiswa. Ketum HA-E  IPB menyerahkan KARTU HIMPUNAN ALUMNI KEHUTANAN, sebagai tanda resminya masuk dalam ORGANISASI HIMPUNAN ALUMNI KEHUTANAN.
Ø  Dunia kerja saat ini mengalami perubahan yang dratis. Gelar yang Saudara peroleh sebagai sarjana adalah menunjukkan cara berpikir. Kreatifitas merupakan hal patut dimiliki bagi sarjana baru. Demikian pula keahlian dalam dunia IT. Lapangan kerja terbuka luas, apakah disektor pemerintah, swasta atau bahkan mandiri. Namun untuk memperolehnya tidak mudah.
Ø HIMPUNAN ALUMNI KEHUTANAN akan membekali saudara dengan memberikan daftar lembaga baik pemerintah maupun swasta yang terdapat alumni HA-E IPB. Semoga bermanfaat.


Diskusi singkat :
Setiap tahun Fahutan IPB memanen Sarjana Kehutanan sekitar 400 orang. Suatu jumlah yang cukup besar. Sebaliknya HA-E IPB akan menerima anggota baru secara otomatis sebanyak itu pula. KARTU HIMPUNAN ALUMNI KEHUTANAN sebaiknya diserahkan pada saat itu pula. Membuat kartu himpunan alumni kehutanan bagi Sarjana Kehutanan (baru) jauh lebih mudah, dibandingkan dengan Sarjana Kehutanan yang lama. Kartu Anggota adalah amanat Anggaran Rumah Tangga Himpunan Alumni Kehutanan (sudah disyahkan belum?, pada saat Hari Pulang Kampus, draft sudah selesai dibahas, salah satu diantaranya adalah setiap ALUMNI KEHUTANAN WAJIB punya KARTU HIMPUNAN ALUMNI KEHUTANAN).
Sebagai Sarjana Kehutanan (baru), mereka akan mengalami kebingungan dalam mencari pekerjaan. Pengurus HA-E IPB sebaiknya memberikan Buku yang berisi daftar lembaga terutama yang berhubungan dengan kehutanan baik pada sektor pemerintah, BUMN, swasta maupun LSM. Hal ini akan menunjukkan kepada Sarjana Kehutanan (baru), salah satu peran dari HA-E IPB.
Mohon maaf bila tidak berkenan. Semoga acara Pemanenan Sarjana Kehutanan tidak hanya bersifat seremonial saja, tetapi ada tindakan konkret, terutama bagi Himpunan Alumni Kehutanan.
BRAVO FAHUTAN , BRAVO HA-E IPB, BRAVO FORESTERS
Bambang Winarto *): Fahutan angkatan 11, masuk IPB 1971


PENGURUS ALUMNI SMA N KENDAL




PENGURUS ALUMNI SMA N KENDAL

Sudah seharusnya kita patut berterima kasih kepada Pengurus Alumni 71 SMA NEGERI KENDAL , karena mereka lah, kita dapat bertemu setiap di adakan temu alumni.  Sebenarnya,  Aku malu terhadap diri Ku sendiri, karena Aku kurang mengetahui siapa saja yang menjadi Pengurus Alumni 71. Aku baru mengetahuinya dari Tuti pada saat reuni yang ke 26 (dua puluh enam) di Lik Ut tanggal 31 Juli 2016. Itu pun masih  kurang lengkap. Aku hanya tahu Mbak Nunuk sebagai KETUA SUKU, Mbak Nina  sebagai sekretaris dan Retna Muninggar sebagai Bendahara. Yang lainnya, Aku tidak tahu (mohon maaf). Menurut Ku masih ada pengurus lainnya. Oleh Tuti, Aku disarankan untuk menghubungi Mbak Nina, karena Mbak Nina sebagai sekretaris tentu mengetahui berbagai informasi yang berhubungan dengan alumni. Ya…., lebih baik terlambat daripada mengetahui secara sepotong sepotong.
Setelah lulus ujian pada akhir tahun 1973, para alumni 1971 “bubar”, bagai anak ayam kehilangan induknya. Masing-masing mencari “kehidupannya” sendiri-sendiri. Kebanyakan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Namun,  banyak juga yang langsung bekerja dan ada pula yang langsung berumah tangga.
Dalam kurun waktu 1974 sampai dengan 1979, masing-masing alumni sibuk dengan perkuliahan. Aku dan Tedjo kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), tepatnya di Fakultas Kehutanan IPB. Selama kurun waktu tersebut, Aku hanya saling kontak dengan teman-teman yang kuliah di Jogya melalui surat. Aku pernah main  ke Jogya mengunjungi teman-teman : Joko Wahyono, Mulyono dan  Harry. Demikian pula Joko Wahyono pernah berkunjung ke Bogor. Dengan teman-teman yang lain hubungan Ku terputus sama sekali. Selanjutnya, dalam kurun waktu dari 1980 sampai dengan tahun 2005, masing – masing alumni sibuk dengan pekerjaannya, sibuk dengan keluarganya dan sibuk dengan kegiatannya lainnya.
Di antara kurun waktu tersebut (1980 - 2005), tepatnya pada Kamis, tanggal 17 Juli 2003, para alumni 71 yang berada di Semarang dan Kendal mengadakan pertemuan untuk pertama kali. Pertemuan diinisiasi oleh Mbak Nunuk dan dilaksanakan di rumah nya. Hadir dalam pertemuan sebanyak 13 (tiga belas) orang yaitu : Mbak Nunuk, Mbak Nina, Retno Muninggar, Hermin, Haryuti, Rinenggo, Iksan, Edy Prapto, Gufron, Bambang Utono, Yulianto, Chusnun dan  Melani.  Dengan demikian, ke tigabelas orang tersebut patut diberi penghargaan sebagai PERINTIS dan sekaligus PENDIRI  terbentuknya PENGURUS ALUMNI  SMA NEGERI KENDAL 1971, dan tanggal 17 JULI, patut diperingati sebagai HARI LAHIRNYA ALUMNI SMA NEGERI KENDAL 1971. (kaya 17 AGUSTUS saja).
Dalam pertemuan tersebut digagas untuk mempertemukan kembali para alumni yang “tercecer” di berbagai tempat dan ide-ide lainnya yang berkembang. Terdapat 5 (lima) keputusan  utama dalam pertemuan tersebut, yaitu:
1.    Di tetapkan PENGURUS ALUMNI SMA NEGERI KENDAL 1971;
2.    Pertemuan alumni di adakan setiap 6 (enam) bulan sekali, dengan berganti lokasi dan tuan rumah;
3.    Pada pertemuan alumni akan mengundang bapak/ibu guru serta pegawai tata usaha;
4.    Dalam pertemuan alumni, pengurus  akan memberikan bantuan kepada para alumni yang membutuhkan, memberikan souvenir kepada bapak/ibu guru dan pegawai tata usaha;
5.    Mengadakan kunjungan pada para alumni yang sedang mengalami sakit.
Dari pertemuan tersebut telah ditetapkan PENGURUS ALUMNI  SMA NEGERI KENDAL 1971 sebagai berikut :
Penasehat   : Edy Prapto Trenggono
Ketua            :  Endang Nursilowati
Sekretaris     :  Kirana Enditya Satyani
Bendahara   :  Retno Muninggar
Humas           : Rinenggo.
Menurut Mbak Nina, dasar pemikiran penunjukkan pengurus sangat sederhana. Edy Prapto ditetapkan sebagai Penasehat, karena yang bersangkutan bekerja di Pemda Kendal. Mbak Nunuk sebagai Ketua karena beliau sebagai penggagas. Mbak Nina sebagai sekretaris karena kedudukannya sebaga Guru SMK di Kendal dan dekat dengan SMA, sehingga kalau mencari data alumni akan lebih mudah. Retno ditunjuk sebagai bendahara, karena dipandang bisa menyimpan uang. Sebagai modal awal untuk bekerja, Rinenggo yang memberi sumbangan. Rinenggo ditunjuk sebagai humas karena bekerja di Telkom, yang diharapkan dapat menjaring atau memperoleh nomor telepon teman-teman alumni.
Menurut Ku susunan pengurus yang ada sudah mencukupi, mengingat bahwa kegiatan pengurus bersifat kekeluargaan,  sosial dan suka rela. Bahkan Aku mendukungnya pengurus ini berlaku untuk seumur hidup.